JAKARTA | Di tengah riuh notifikasi gawai dan banjir konten digital, dunia jurnalistik Indonesia berada pada persimpangan yang tidak mudah. Media arus utama kini tak hanya berhadapan dengan disrupsi teknologi, tetapi juga harus berbagi ruang dengan konten kreator dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kian agresif memproduksi informasi.
Kegelisahan itu mengemuka dalam perbincangan para jurnalis lintas generasi bersama para sepuh media di Denpasar, Bali. Wicaksono, salah satu pembicara dalam forum Publisiana, menilai tanda-tanda pergeseran sudah terasa sejak media daring tumbuh pesat. Media cetak pelan-pelan ditinggalkan, seiring pembaca beralih ke layar ponsel yang menawarkan kecepatan dan kepraktisan.
Namun, tantangan terbesar justru datang belakangan. Ketika media daring sempat mengandalkan produksi berita masif, optimasi mesin pencari (SEO), dan analitik digital, kehadiran AI mengubah lanskap secara drastis. “Begitu AI masuk, semua sirna pelan-pelan. Media juga kalah cepat dengan konten kreator,” ujarnya.
Ironinya, di mata sebagian publik, media arus utama justru kerap disamakan dengan penyebar hoaks. Batas antara jurnalisme dan konten media sosial kian kabur. Banyak kreator tampil layaknya jurnalis di akun pribadinya —sebuah fenomena yang tak sepenuhnya keliru, tetapi berpotensi menjadi pisau bermata dua. Ketika sebagian media daring ikut terjebak dalam praktik serampangan, mengabaikan verifikasi, etika, dan nilai berita, siapa wasit yang mengawasi dan mengoreksi.
Dalam situasi itulah, Wicaksono menekankan pentingnya kembali ke “marwah” jurnalistik. Liputan investigasi, penelusuran konflik agraria, tambang ilegal, konflik sosial, dan isu-isu yang menuntut kehadiran fisik wartawan di lapangan disebut sebagai kekuatan yang belum dapat ditiru mesin. “AI tidak bisa membuat liputan seperti itu,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, yang menyoroti ancaman AI terhadap dunia pers dalam Retret Bela Negara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Bogor. Ia mengingatkan bahwa tantangan AI bukan perkara sepele. Mesin kini mampu memproduksi konten dalam skala masif, termasuk konten palsu yang justru kerap digemari warganet.
Nezar mengutip riset Reuters yang menunjukkan tekanan berat yang dihadapi media arus utama secara global. Hanya sekitar 38 persen pemimpin redaksi yang masih percaya diri menghadapi gempuran platform berbasis AI. Meski demikian, ia menegaskan bahwa jurnalisme belum kehilangan senjatanya.
“Hadapi AI dengan berita on the ground, on the spot. Ini wilayah yang belum bisa digantikan AI,” ujar mantan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post itu. Ia mendorong media memperkuat konten real time, visual, video pendek, dan infografis, sekaligus menegaskan bahwa liputan human interest —yang sarat emosi dan empati— tetap menjadi keunggulan manusia.
Di tengah pergeseran platform, ketika SEO dan iklan digital tak lagi menjanjikan, media pun dituntut adaptif. Banyak yang mulai menjajaki YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook, bahkan menampilkan wartawan sebagai figur yang berbicara langsung kepada publik. Di Amerika Serikat, strategi ini telah lebih dulu ditempuh untuk menjaga kedekatan dengan audiens.
Namun, di atas segala strategi dan teknologi, Nezar mengingatkan satu hal mendasar: etika jurnalistik. AI, katanya, tidak memiliki emosi, nurani, dan tanggung jawab moral. Di sanalah roh profesi wartawan seharusnya tetap berpijak—menjadi penjernih informasi di tengah hiruk-pikuk konten, mesin, dan algoritma. (rih)





