JAKARTA | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, meluruskan makna program “Mudik ke Jakarta” yang diluncurkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang libur Lebaran 2026. Menurut dia, istilah tersebut bukan berarti mengajak masyarakat dari daerah lain untuk datang ke ibu kota.
Pramono menegaskan, program tersebut justru dimaksudkan untuk memberikan ruang rekreasi bagi warga yang tetap berada di Jakarta saat sebagian besar penduduk melakukan perjalanan mudik.
“Saya ingin meluruskan beberapa pemberitaan mengenai mudik ke Jakarta. Itu bukan artinya mengharapkan masyarakat yang di kampung-kampung datang ke Jakarta untuk mudik. Jakarta kali ini memberikan ruang bagi siapa pun untuk menikmati Jakarta ketika kota sedang lengang,” ujar Pramono saat berada di kawasan Kepulauan Seribu, Jumat (14/3/2026).
Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah warga yang mudik pada Lebaran tahun ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Artinya, jutaan orang diprediksi tetap berada di ibu kota selama periode libur panjang.
Untuk itu, Pemprov DKI menyiapkan sejumlah program yang dikemas dalam agenda “Mudik ke Jakarta”. Salah satunya berupa potongan harga di berbagai destinasi wisata serta kebijakan transportasi gratis selama dua hari berturut-turut.
“Kami akan mengadakan program-program diskon. Beberapa tempat wisata juga akan memberikan potongan harga, termasuk transportasi yang selama dua hari akan kami gratiskan,” kata Pramono.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Operasional Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Yayat Sudrajat, memperkirakan sekitar 4.024.251 warga tidak melakukan perjalanan mudik Lebaran 2026 dan tetap berada di Jakarta.
Jumlah tersebut berpotensi memadati sejumlah destinasi wisata dan pusat perbelanjaan, antara lain Taman Impian Jaya Ancol, Taman Margasatwa Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah, kawasan Kota Tua Jakarta, Monumen Nasional, serta kawasan wisata Pantai Indah Kapuk.
Selain lokasi wisata, sejumlah pusat perdagangan juga diperkirakan ramai dikunjungi, seperti kawasan Tanah Abang, Kebon Kacang, dan Glodok.
Mengantisipasi kepadatan lalu lintas di titik-titik tersebut, Pemprov DKI menyiapkan sejumlah skenario pengaturan arus kendaraan. Opsi yang dipertimbangkan antara lain penerapan sistem contra flow, pembatasan kendaraan dengan metode ganjil genap, hingga pengendalian mobilitas di kawasan wisata.
Selain rekayasa lalu lintas, pemerintah daerah juga menyiagakan 2.082 personel selama masa Angkutan Lebaran 2026. Personel tersebut dilengkapi berbagai sarana pendukung, antara lain 90 unit mobil patroli, 90 mobil derek, 240 rambu portabel, serta 1.350 traffic cone atau water barrier.
Di tingkat nasional, operator jalan tol PT Jasa Marga memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada 18 Maret 2026 atau H-3 Lebaran, sementara arus balik diperkirakan berlangsung pada 23 Maret 2026 atau H+3.
Berdasarkan proyeksi perusahaan tersebut, volume kendaraan yang keluar Jakarta pada periode H-10 hingga H-1 diperkirakan mencapai sekitar 3.671.078 kendaraan. Adapun arus kendaraan yang masuk ke Jakarta pada rentang H-10 hingga H+10 diproyeksikan mencapai sekitar 3.540.379 kendaraan. (rih)

