Gaya Komunikasi Jebakan Agenda untuk Menuntaskan Masalah

Must read

“Komunikasi adalah kekuasaan yang paling halus, tapi paling menentukan nasib manusia.”

Ketika menulis ini, saya teringat pada almarhumah Prof. Aida Vitalaya Hubeish, dosen saya di Program Doktor Komunikasi Pembangunan IPB.

Beliau, yang mengampu mata kuliah gender, sering membuka kelas dengan kalimat yang sederhana tapi menggugah: “Komunikasi adalah kekuasaan yang paling halus, tapi paling menentukan nasib manusia.”

Di setiap perkuliahan, Prof. Aida kerap mengutip pemikiran Deborah Tannen, seorang linguis yang banyak meneliti tentang bagaimana perempuan dan laki-laki berbicara — dan lebih sering lagi, bagaimana mereka saling salah paham.

Kini, di tengah berita tentang perceraian Raisa Andriana dan Hamish Daud, kata-kata itu kembali terngiang.

Sebab, kisah pasangan yang dulu dielu-elukan sebagai “couple goals” itu tampak seperti ilustrasi nyata dari teori yang dulu Prof. Aida ajarkan: bahwa di balik setiap hubungan yang tampak ideal, sering tersembunyi perbedaan cara berpikir dan berkomunikasi, yang bisa menentukan arah kebahagiaan.

Dalam buku Against Happiness (Flanagan, LeDoux, & Bingle, 2023), kebahagiaan dikritik sebagai “agenda global” yang terlalu disederhanakan: sesuatu yang bisa diukur, dikejar, dan dipamerkan.

Padahal, tulis mereka, ketika kebahagiaan direduksi menjadi sekadar “rasa senang” atau “surplus emosi positif”, manusia kehilangan kedalaman makna hidup.

Dalam hubungan personal, terutama dalam pernikahan publik seperti Raisa dan Hamish, standar kebahagiaan sering kali dibentuk oleh tatapan luar — kamera, media, dan ekspektasi sosial.

Pasangan itu bukan hanya hidup bersama, tetapi juga dihidupi oleh publik. Ketika kebahagiaan menjadi performa, maka sedikit retakan saja bisa terasa seperti kegagalan besar.

Di sinilah jebakan agenda kebahagiaan bekerja: ia menuntut kesempurnaan yang konstan, bukan kejujuran yang manusiawi.

Padahal, sebagaimana dikatakan Flanagan dkk., kebahagiaan yang sejati tidak bisa dilepaskan dari keadilan — termasuk keadilan terhadap diri sendiri.

Dalam Conversational Style dan Talking Voices, Deborah Tannen (2005, 2007) menjelaskan bahwa konflik dalam hubungan sering bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena perbedaan gaya bicara antara dua individu.

Laki-laki dan perempuan, dalam konteks sosial dan budaya, sering memaknai percakapan secara berbeda.

Yang satu berbicara untuk melaporkan (report talk), sementara yang lain berbicara untuk membangun kedekatan (rapport talk).

Hamish, dengan gaya yang cenderung langsung dan rasional, mungkin berkomunikasi untuk menuntaskan masalah.

Raisa, yang terbiasa hidup di ruang emosional dan artistik, bisa jadi berbicara untuk merasakan koneksi.

Namun, ketika dua gaya ini bertemu tanpa kesadaran akan perbedaan ritmenya, cinta bisa berubah menjadi monolog.

Prof. Aida pernah berkata dalam satu kelas, “Perempuan sering dinilai terlalu emosional, padahal mereka sedang berusaha membangun jembatan empati.”

Kalimat itu kini terasa relevan. Mungkin Raisa, dengan segala kesantunan dan keheningannya, sedang menunjukkan bentuk komunikasi yang justru paling berani — komunikasi yang memilih diam saat kata-kata kehilangan maknanya.

Kritik Against Happiness juga mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak semestinya menjadi ukuran utama dalam hidup, karena ia bisa menutupi ketimpangan — termasuk ketimpangan gender.

Perempuan sering dibebani tanggung jawab ganda: menjaga kehangatan rumah tangga sekaligus tetap tampil bahagia di depan publik.

Namun, kebahagiaan yang autentik, tulis Flanagan dkk., justru lahir dari keberanian menolak peran yang menekan.

Dalam konteks itu, keputusan Raisa menggugat cerai bukan sekadar berita hiburan, melainkan tindakan yang mengandung makna sosial: bentuk agency seorang perempuan yang memilih kejujuran dibanding kepura-puraan.

Ia tidak menolak cinta, tapi menolak untuk terjebak dalam definisi bahagia yang ditentukan orang lain.

Raisa dan Hamish mungkin tidak berhasil mempertahankan rumah tangga mereka, tapi mereka telah memberi pelajaran penting bagi masyarakat yang sering mengidealkan cinta.

Bahagia tidak selalu berarti bertahan. Kadang, bahagia berarti berani berubah — dan mengakui bahwa cinta juga bisa berakhir dengan hormat.

Kebahagiaan, seperti diuraikan Against Happiness, seharusnya menjadi tujuan sekunder, hanya layak dikejar jika sejalan dengan keadilan.

Dan komunikasi, seperti kata Tannen, adalah jantung hubungan. Jika jantung itu berhenti berdetak, mungkin yang tersisa hanyalah keheningan yang menyembuhkan.

Prof. Aida pernah menutup kuliah dengan kalimat yang kini terasa begitu pas:

“Kadang perempuan tidak butuh dipahami — cukup diberi ruang untuk tidak harus menjelaskan.”

Mungkin di sanalah Raisa kini berdiri: di ruang sunyi yang tak perlu ia jelaskan kepada siapa pun, kecuali dirinya sendiri.Edhy Aruman

DAFTAR PUSTAKA

Flanagan, O., LeDoux, J. E., & Bingle, B. (2023). Against happiness. Yale University Press.

Tannen, D. (2005). Conversational style: Analyzing talk among friends. Oxford University Press.

Tannen, D. (2007). Talking voices: Repetition, dialogue, and imagery in conversational discourse. Cambridge University Press.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article