SINTANG || Peningkatan kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) yang mencakup HIV/AIDS dan Sifilis di wilayah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Melawi kini memasukinya memasukinya tahap yang mengkhawatirkan. Fenomena ini bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata yang mulai merambah hingga ke pelosok desa dan menyasar kelompok usia remaja.
Dokter Umum Puskesmas Dedai, dr. Siti Masitoh, MM, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi di lapangan. Menurutnya, Sintang dan Melawi berada dalam posisi yang sama-sama rentan. Meski kasus meningkat tajam, ia menilai respon dari pemerintah daerah dan sektor terkait masih belum menunjukkan pergerakan yang signifikan.
“Kami tenaga kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Kasus ini sudah ditemukan hingga ke pelosok desa. Perlu ada regulasi mengikat dari pemerintah pusat hingga daerah, serta gotong royong lintas sektor untuk menyelamatkan generasi kita,” tegas dr. Siti.
Beban Negara dan Ancaman Masa Depan
Penyakit HIV/AIDS bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan masalah sosial dan ekonomi. dr. Siti mengingatkan bahwa seseorang yang terjangkit akan menjadi “beban negara” seumur hidup dalam hal biaya pengobatan dan penurunan produktivitas. Oleh karena itu, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dan efisien daripada pengobatan.
Seruan Kolaborasi: Dari Keluarga hingga Bupati
dr. Siti menekankan bahwa penanganan HIV/AIDS memerlukan aksi kolaboratif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, di antaranya:
Tingkat Keluarga:
Orang tua sebagai garda terdepan pengawasan.
Tingkat Desa dan Kecamatan:
Perangkat desa, tokoh agama, tokoh adat, Polsek, Koramil, dan Puskesmas.
Tingkat Kabupaten:
Koordinasi intensif antara Bupati, Polres, Kodim, Dinas Kesehatan, hingga lembaga Perlindungan Anak.
Menutup pernyataannya, dr. Siti memberikan panduan praktis bagi para orang tua (Ayah dan Bunda) untuk meminimalisir risiko penularan pada anak remaja:
1. Pemberlakuan Jam Malam:
Memastikan anak-anak berada di rumah pada jam yang wajar guna menghindari pergaulan bebas.
2. Selektif Memilih Hunian (Kost):
Bagi anak yang bersekolah atau bekerja jauh dari rumah, orang tua wajib memastikan tempat kost memiliki aturan yang ketat dan diawasi langsung oleh pemilik kost.
3. Komunikasi Intensif:
Tetap memantau aktivitas putra-putri mereka meskipun sudah bekerja di kota kabupaten selama mereka belum berkeluarga.
4. Edukasi Risiko:
Memberikan pemahaman bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang sama terhadap penularan IMS dan HIV/AIDS.
“Generasi muda adalah aset bangsa. Jika kita tetap diam, kita sedang membiarkan masa depan mereka hancur. Mari bersatu padu sebelum terlambat,” pungkasnya.(jnr)

