Alarm Merah HIV/AIDS di Melawi, Dr. Ahmad Jawahir Desak Kolaborasi Lintas Sektor

Must read

MELAWI || Ancaman virus HIV/AIDS di Kabupaten Melawi kini bukan lagi sekadar isu di permukaan, melainkan ancaman nyata yang mulai menyasar generasi muda. Menanggapi data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Melawi, praktisi kesehatan dr. Ahmad Jawahir memberikan peringatan keras sekaligus solusi strategis untuk menekan angka penyebaran virus tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis hingga tahun 2025, Dinkes Melawi mencatat sebanyak 38 kasus HIV/AIDS berhasil terdeteksi melalui layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di RSUD Kabupaten Melawi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Melawi, Puspawati, memaparkan sebaran pasien saat ini terdiri dari:

Laki-laki: 20 orang

Perempuan: 18 orang

“Penyebaran virus ini tidak mengenal batas wilayah maupun usia produktif. Mulai dari remaja berusia 14 tahun hingga usia matang 50 tahun,” ujar Puspawati. Meski angka tertinggi berada pada rentang usia 25–50 tahun, tren pada kalangan milenial dan remaja (14–25 tahun) menunjukkan peningkatan yang sangat mengkhawatirkan.

Menanggapi situasi yang kian genting, dr. Ahmad Jawahir  angkat bicara. Menurutnya, penanganan HIV/AIDS tidak bisa hanya dibebankan pada pundak sektor kesehatan semata. Ia menekankan perlunya tindakan  promotif (pendidikan kesehatan) dan preventif (pencegahan) yang masif dan terstruktur.

“Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Saya menyarankan agar segera dilakukan kolaborasi lintas SKPD terkait, mulai dari Dinas Kesehatan, Pendidikan, Sosial, hingga organisasi kemasyarakatan seperti PKK dan Dharma Wanita,” tegas dr. Ahmad Jawahir.

Menurut dr. Ahmad, keterlibatan berbagai pihak sangat krusial karena:

1. Dinas Pendidikan: Diperlukan untuk masuk ke sekolah-sekolah guna memberikan edukasi dini kepada remaja agar terhindar dari perilaku berisiko.

2.  Dinas Sosial & Organisasi Wanita (PKK/Dharma Wanita): Penting dalam memperkuat ketahanan keluarga dan memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai bahaya serta cara pencegahan HIV.

3. Pengawasan Pekerja Pendatang: Mengingat data menunjukkan adanya pasien dari luar kabupaten dan pekerja pendatang, pengawasan di sektor industri dan mobilitas penduduk juga perlu diperketat.

Data Dinkes menunjukkan bahwa mayoritas penderita adalah penduduk lokal Melawi. Namun, keberadaan pasien dari luar kabupaten dan pekerja pendatang menambah kompleksitas pemetaan penyebaran virus di wilayah ini.

Dengan munculnya kasus pada usia 14 tahun, Kabupaten Melawi kini menghadapi tantangan besar dalam melindungi aset masa depannya. Masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap HIV/AIDS sebagai tabu, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang harus dihadapi bersama melalui deteksi dini dan pola hidup sehat. (jnr)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article