JAKARTA | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong percepatan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Berdasarkan kajian pemerintah, penggunaan CNG disebut dapat menekan biaya energi hingga sekitar 30 persen dibandingkan LPG.
“CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen,” ujar Bahlil di Istana Negara, Selasa (5/5/2026).
Menurut dia, keunggulan harga tersebut ditopang oleh ketersediaan bahan baku gas yang melimpah di dalam negeri. Berbeda dengan LPG yang masih bergantung pada impor, pemanfaatan CNG dinilai mampu mengurangi beban biaya logistik dan ketergantungan energi dari luar negeri.
Secara nasional, data Kementerian ESDM menunjukkan Indonesia memiliki cadangan gas bumi mencapai sekitar 54 triliun kaki kubik (Tcf) pada 2024. Produksi gas bumi juga berada di kisaran 5.300–6.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), yang menjadi basis pengembangan energi berbasis gas, termasuk CNG.
Telah Digunakan di Sejumlah Wilayah
Pemanfaatan CNG sejatinya bukan hal baru. Di sejumlah daerah, terutama di Pulau Jawa, penggunaan gas terkompresi ini telah diterapkan dalam skala komersial maupun rumah tangga.
Di Jakarta, CNG digunakan untuk bahan bakar transportasi melalui program konversi bahan bakar gas (BBG), termasuk untuk armada Transjakarta dan taksi. Sementara di Surabaya dan Semarang, jaringan gas kota (city gas) yang berbasis CNG telah menjangkau ribuan rumah tangga serta pelaku usaha kecil.
Data ESDM mencatat hingga 2025, jaringan gas (jargas) telah terpasang di lebih dari 800.000 sambungan rumah (SR) di berbagai kota, seperti Palembang, Balikpapan, dan Tarakan. Sebagian wilayah tersebut memanfaatkan skema CNG untuk distribusi gas, terutama di daerah yang belum terjangkau pipa transmisi.
Di sektor komersial, hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mulai memanfaatkan CNG karena dinilai lebih stabil dan efisien dalam jangka panjang.
Efisiensi dan Tantangan Infrastruktur
Bahlil menegaskan, selain lebih murah, distribusi CNG relatif fleksibel karena dapat diangkut menggunakan truk dalam bentuk gas terkompresi, tanpa harus menunggu pembangunan pipa gas yang memakan waktu lama.
Namun, pengembangan CNG tetap menghadapi tantangan, terutama pada pembangunan infrastruktur stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) dan fasilitas kompresi. Saat ini, jumlah SPBG di Indonesia masih terbatas, berkisar 70–80 unit, sehingga distribusi belum merata.
Pemerintah menargetkan perluasan pemanfaatan CNG sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengendalian subsidi LPG yang dalam APBN 2025 tercatat mencapai lebih dari Rp 80 triliun.
Dengan kombinasi harga yang lebih murah, pasokan domestik yang kuat, serta penggunaan yang mulai meluas di berbagai daerah, CNG dipandang sebagai salah satu opsi realistis untuk mengurangi ketergantungan pada LPG, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. (rih)





