JAKARTA | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak ekonomi yang terukur. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, program ini turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan, kontribusi MBG terutama tercermin dalam komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), seiring masifnya pembangunan infrastruktur penunjang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Pada triwulan I 2026 kami mencermati adanya pembangunan fisik SPPG yang cukup masif. Aktivitas konstruksi dan infrastruktur konektivitas menjadi bagian penting dari kontribusi terhadap PMTB,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Investasi terkait SPPG tercatat sebagai belanja modal, mencakup pembangunan dapur layanan hingga penyediaan peralatan pendukung. Secara keseluruhan, PMTB menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar kedua setelah konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi 1,79 persen.
Komponen ini tumbuh 5,96 persen dan menyumbang 28,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya investasi pemerintah dalam program prioritas nasional, serta ekspansi investasi swasta.
Dari sisi lapangan usaha, pembangunan SPPG dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) ikut mengerek kinerja sektor konstruksi. Sektor ini tumbuh 5,49 persen dan memberikan kontribusi 0,53 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurut Amalia, penguatan sektor konstruksi sejalan dengan meningkatnya realisasi belanja modal pemerintah dan aktivitas pembangunan oleh sektor swasta, termasuk bertambahnya jumlah fasilitas SPPG di berbagai daerah.
Meski tumbuh secara tahunan, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq) dibandingkan triwulan IV 2025.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi 2,94 persen. Selain itu, PMTB menyumbang 1,79 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 1,26 persen.
Adapun lima sektor utama penyumbang PDB pada triwulan I 2026 meliputi industri pengolahan sebesar 19,07 persen, perdagangan 13,28 persen, pertanian 12,67 persen, konstruksi 9,81 persen, serta pertambangan 8,69 persen. (rih)





