JAKARTA | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menegaskan pentingnya kehadiran negara bersama seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan perempuan tidak berjalan sendiri menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan budaya. Perlindungan dan pemberdayaan, menurutnya, harus berjalan beriringan agar perempuan dapat berperan optimal dalam pembangunan nasional.
“Perempuan tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Dengan perlindungan yang kuat, perempuan akan semakin berdaya,” ujar Arifatul dalam sambutan tertulis yang dibacakan Deputi Bidang Kesetaraan Gender Amurwani Dwi Lestariningsih saat membuka AMKI Kartini Award 2026 di Grand Cendana Aston Kartika Grogol Hotel, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Arifatul mengapresiasi penyelenggaraan AMKI Kartini Award 2026 oleh Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) yang mengangkat tema “Perempuan Tangguh”. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi kekinian, ketika perempuan Indonesia kian menunjukkan kontribusi signifikan di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kepemimpinan publik.
Menurut dia, semangat Kartini di era modern telah berkembang, tidak hanya membuka akses pendidikan dan kesempatan, tetapi juga menjadi kekuatan untuk memimpin perubahan. Perempuan kini tampil sebagai aktor penting dalam transformasi sosial sekaligus penjaga ketahanan budaya dan nilai-nilai masyarakat.
Sejumlah indikator memperlihatkan kemajuan kesetaraan gender di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menandakan berkurangnya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, terutama pada aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Namun, tantangan masih tersisa, terutama pada tingkat partisipasi angkatan kerja dan keterwakilan perempuan di posisi strategis.
Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pengurangan ketimpangan melalui kebijakan afirmatif, peningkatan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan layak, serta penguatan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
“Ketimpangan memang menurun, tetapi langkah percepatan tetap diperlukan. Perempuan Indonesia memiliki kapasitas besar yang harus terus difasilitasi,” kata Arifatul.
Ajang penghargaan seperti AMKI Kartini Award dinilai menjadi ruang strategis untuk mengapresiasi sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak perempuan inspiratif yang mampu menjadi teladan dan penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Peran Strategis Perempuan
Ketua Umum AMKI Tundra Meliala menyatakan, semangat Raden Ajeng Kartini menjadi landasan utama penyelenggaraan penghargaan tersebut. Menurut dia, kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan aktif perempuan dalam pendidikan, pemikiran, dan kepemimpinan.
“Ini bukan sekadar penghargaan, melainkan ikhtiar untuk mengangkat, mengakui, dan memperkuat peran perempuan Indonesia di berbagai sektor strategis,” ujar Tundra.
Di tengah arus konvergensi media dan percepatan transformasi digital, perempuan dinilai semakin menempati posisi penting, baik di ruang redaksi, institusi pemerintahan, maupun lini terdepan dalam penanganan krisis sosial dan kemanusiaan.
“Perempuan bukan pelengkap, tetapi penentu arah masa depan ekosistem informasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan perdana yang didukung sejumlah mitra, AMKI menetapkan sembilan kategori penghargaan, mulai dari Kepemimpinan Nasional hingga Lifetime Achievement. Dari kategori tersebut, terpilih 11 perempuan penerima penghargaan yang dinilai berkontribusi nyata di berbagai bidang, dari tingkat pusat hingga akar rumput.
Daftar penerima mencakup tokoh pemerintahan, profesional, hingga penggerak masyarakat, yang masing-masing dinilai berhasil menghadirkan dampak nyata dalam pemberdayaan perempuan, pembangunan sosial, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia. (rih)

