waktu memiliki dua wajah: satu wajah adalah kesepakatan, wajah lain adalah kehidupan itu sendiri
Tadi pagi seorang teman mengirimkan foto tentang Leiden. Langitnya biru pucat, awan tipis bergelayut di ufuk, seolah enggan pergi dari hari yang masih panjang.
Cahaya sore menyentuh atap rumah bata, memantul lembut di jendela kaca, sementara dedaunan merambat di pagar kayu, hijau dan segar seperti baru saja dibasuh hujan.
Di kanal yang tak jauh dari sana, burung camar masih berputar di udara, seakan waktu belum mendesak mereka kembali ke sarang.
Di Leiden, hari masih bernapas.
Tetapi di Jakarta, waktu bercerita lain. Jam digital di ponsel sudah lewat tengah malam. Lampu jalan menyala kuning pucat, jalanan mulai lengang, suara motor hanya sesekali memecah sunyi.
Dari pepohonan, jangkrik mengisi udara dengan irama malam yang khas, menandai dunia yang telah berbalik ke sisi gelapnya. Orang-orang terbaring dalam kamar, sebagian sudah lelap, sebagian masih terjaga menatap layar biru ponsel.
Di sini, hari sudah lama berakhir.
Leiden yang masih terang sementara Jakarta sudah gelap bukan sekadar perbedaan waktu.
Ia adalah gambaran tentang dua jam yang mengatur hidup kita.
Yang pertama adalah jam sosial—jam digital yang lahir dari kesepakatan. Ia membagi bumi dengan garis imajiner, menertibkan jadwal kereta, menyelaraskan telegraf, dan akhirnya menyatukan dunia dalam satu ritme global (Zerubavel, 1982).
Jam ini yang membuat rapat lintas benua bisa berlangsung, yang membuat pasar saham di New York berpengaruh sampai Asia, yang membuat dunia modern berdetak serentak.
Namun ada jam lain yang lebih tua dan absolut: jam alam. Ia berdetak melalui perputaran bumi, melalui matahari yang muncul di ufuk Leiden, melalui suara jangkrik di pekarangan Jakarta.
Ia hadir dalam ritme sirkadian tubuh manusia—kapan kita lapar, segar, atau mengantuk (Roenneberg, 2012). Jam ini tak mengenal kesepakatan; ia hanya tahu cahaya dan gelap, terbit dan tenggelam, hidup yang tunduk pada siklus bumi.
Pertarungan dua jam ini berlangsung setiap hari dalam diri kita.
Ada pekerja yang masih segar larut malam tetapi memaksa diri tidur karena jam sosial menuntut bangun pagi. Ada anak sekolah yang terkantuk-kantuk di kelas karena tubuhnya belum siap mengikuti irama yang dipaksakan.
Ilmu pengetahuan menyebut kondisi ini sebagai yangsocial jetlag —ketika jam biologis tubuh tidak sejalan dengan jam sosial masyarakat (Wittmann, Dinich, Merrow, & Roenneberg, 2006).
Akibatnya, manusia hidup dalam kelelahan yang tak bisa disembuhkan hanya dengan tidur panjang di akhir pekan.
Foto Leiden sore itu menyimpan pesan sederhana tapi dalam: waktu bukan sekadar angka di layar. Ia juga cahaya senja yang lambat meredup, suara jangkrik yang mengisi malam, embun yang menempel di dedaunan ketika pagi tiba.
Ia bukan hanya struktur kolektif, melainkan juga pengalaman personal yang menyatu dengan tubuh dan alam.
Waktu, akhirnya, adalah dua detak jam dalam dada manusia. Satu detak mengikuti dunia luar—alarm yang berbunyi, jadwal kerja yang menuntut, zona waktu yang membentang dari timur ke barat.
Detak lainnya mengikuti dunia dalam — matahari di ufuk Leiden yang membuat tubuh tetap segar, suara jangkrik di Jakarta yang menuntun manusia ke kantuk. Kadang keduanya berdetak selaras, kadang bertabrakan. Dan di situlah manusia modern terus belajar menjaga keseimbangan.
Mungkin kebijaksanaan tentang waktu bukanlah memilih salah satu jam, melainkan belajar mendengar keduanya. Menghormati jam sosial yang menertibkan dunia, tanpa melupakan jam alam yang menjaga tubuh dan jiwa tetap utuh.
Setiap kali kita menatap langit Leiden yang masih terang sementara Jakarta sudah sunyi, kita diingatkan bahwa waktu memiliki dua wajah: satu wajah adalah kesepakatan, wajah lain adalah kehidupan itu sendiri. Edhy Aruman
RUJUKAN
Roenneberg, T. (2012). Internal time: Chronotypes, social jet lag, and why you’re so tired. Harvard University Press.
Wittmann, M., Dinich, J., Merrow, M., & Roenneberg, T. (2006). Social jetlag: Misalignment of biological and social time. Chronobiology International, 23(1–2), 497–509. https://doi.org/10.1080/07420520500545979
Zerubavel, E. (1982). The standardization of time: A sociohistorical perspective. American Journal of Sociology, 88(1), 1–23. https://doi.org/10.1086/227631

