Refleksi: Monkey See, Monkey Do

Must read

Oleh : Edhy Aruman

Kyle McDowell bukan hanya seorang pemimpin korporat dengan reputasi luar biasa. Ia adalah arsitek budaya.

Dia percaya bahwa keberhasilan organisasi tak hanya bergantung pada strategi bisnis, tetapi pada cara manusia di dalamnya saling memperlakukan dan memimpin.

Selama bertahun-tahun, ia memimpin ribuan karyawan di perusahaan-perusahaan besar seperti CVS Health, Maximus, United Health Group (Optum), dan Bank of America.

Namun, yang membuat Kyle berbeda adalah keyakinannya yang mendalam bahwa dunia korporasi membutuhkan cara baru dalam memimpin—yang lebih otentik, penuh empati, dan berbasis nilai.

Kyle bertemu dengan Brian Alan, seorang Chief Operating Officer di sebuah perusahaan manufaktur rumah tinggal.

Kyle dan Brian bertemu setiap kuartal untuk berdiskusi tentang upaya Brian dalam mentransformasi budaya organisasinya.

Namun ada satu pertemuan yang menurut Kyle sangat berkesan. Ketika itu, Brian bercerita tentang interaksinya dengan salah satu eksekutif di timnya.

“Dia datang dengan beberapa pertanyaan dan meminta persetujuan saya atas strategi pemasaran,” kata Brian.

“Saya katakan padanya, ‘Kalau kamu lihat kalender saya dan betapa sibuknya saya, kamu pasti tahu saya nggak punya waktu untuk lihat ini. Bisa kamu putuskan sendiri, nggak?’”

Brian menyampaikan cerita ini dengan harapan mendapat pengakuan. Ia merasa sedang memberi kepercayaan.

Tapi Kyle mendengar sesuatu yang lain. Ia menatap Brian dan bertanya pelan, “Brian, kamu sadar nggak peluang besar yang kamu lewatkan di situ?”

Brian terdiam. Ia terlihat bingung. Maka Kyle menjelaskan.

“Yang kamu sampaikan bukan pemberdayaan. Itu penolakan. Itu menunjukkan bahwa kamu terlalu sibuk, terlalu penting, untuk pertanyaan yang menurut dia penting. Dan ketika pemimpin menunjukkan sikap seperti itu, orang-orang di timnya akan menirunya. Dia, mungkin, akan melakukan hal yang sama terhadap bawahannya. Dan begitu seterusnya. Tanpa sadar, kamu sedang mewariskan budaya yang penuh jarak dan rasa tak penting.”

Kyle melanjutkan, “Kamu tahu apa yang bisa kamu katakan, dan tetap menunjukkan kepercayaan?”

Brian mengangguk pelan.

Kyle lalu berkata, “Kamu bisa katakan: ‘Kamu ada di tim ini karena kami percaya kamu bisa ambil keputusan penting. Saya percaya padamu. Kalau pun nanti ada masalah, kita hadapi bersama.’”

Brian terdiam cukup lama. Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Kamu benar. Saya meremehkan dia tanpa sadar.”

Dalam momen itu, Kyle McDowell bertindak sebagai Cermin Kebenaran — cermin yang membantu seorang pemimpin melihat dampak dari kata-katanya, bukan hanya niatnya.

Yang menarik, ini bukan pertama kalinya Brian terjebak dalam pola ini.

Dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, ia sering membicarakan betapa menekannya gaya kepemimpinan bosnya, Corey—seorang pemimpin yang otoriter dan tak memberi ruang.

Tanpa ia sadari, Brian sedang meneruskan pola itu. Seperti yang Kyle tulis dalam Begin With WE: “Monkey see, monkey do.” Kita meniru apa yang kita lihat, kecuali kita sadar dan memilih untuk berubah.

Singkat kata, Begin With WE mengajarkan bahwa budaya bukanlah proyek HR atau hasil dari sesi pelatihan singkat. WE mewakili pergeseran dari pola pikir individualistik (I/me) menuju budaya kolektif yang berlandaskan nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab bersama, dan kepercayaan timbal balik.

Dan Budaya itu terbentuk dari contoh yang diberikan setiap hari oleh para pemimpin—cara mereka bicara, mendengarkan, mengambil keputusan, dan bertindak di saat-saat penting.

Kyle McDowell percaya bahwa pemimpin sejati bertanya pada dirinya setiap hari: Apakah saya membuat tim saya merasa didengar dan dihargai? ; Apakah saya memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh?  ; Apakah saya menjadi contoh yang ingin mereka ikuti?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari asumsi pribadi, tetapi dari umpan balik. Karena itu, Kyle selalu mendorong para pemimpin untuk membuka ruang refleksi: survei, percakapan terbuka, bahkan kritik yang pedas—semuanya adalah bahan bakar untuk bertumbuh.

Kisah Brian adalah kisah kita semua. Setiap hari, setiap percakapan, adalah kesempatan untuk menunjukkan nilai atau melanggarnya. Kita bisa memilih untuk menjadi pemimpin yang hadir, mendengar, dan memberdayakan. Atau kita bisa memilih untuk sibuk, tak peduli, dan meninggalkan tim kita berjalan sendiri.

Kyle McDowell memilih untuk memulai dengan WE. Dan lewat Begin With WE, ia mengajak seluruh dunia korporat untuk ikut memilih hal yang sama.

Nah, jika Anda pemimpin, calon pemimpin, atau sedang membangun budaya organisasi, tanyakan hari ini: Sudahkah kamu memulai dengan WE?

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article