JAKARTA | Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz, Kamis hingga Jumat (8/5/2026). Situasi itu memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu jalur pelayaran internasional, dan memperbesar kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas kawasan.
Militer AS melaporkan tiga kapal perang mereka diserang rudal, drone, dan perahu cepat Iran saat melintas di Selat Hormuz. Washington mengklaim seluruh ancaman berhasil dipatahkan sebelum menghantam sasaran.
Komando Pusat AS menyebut pasukannya kemudian menyerang fasilitas militer Iran yang dianggap bertanggung jawab atas aksi tersebut. Sebaliknya, Teheran menuduh AS lebih dulu melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker dan armada Iran di kawasan teluk.
Presiden AS Donald Trump menegaskan gencatan senjata dengan Iran “masih berlaku” meski bentrokan bersenjata kembali terjadi. Trump bahkan mengklaim pasukan AS telah menimbulkan “kerusakan besar” terhadap kekuatan Iran.
“Mereka mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka,” ujar Trump kepada wartawan di Washington.
Di tengah eskalasi itu, Uni Emirat Arab melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat rudal dan drone yang berasal dari Iran. Suara intersepsi dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah negara tersebut.
Situasi keamanan di Teluk Persia langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,2 persen menjadi 95,93 dollar AS per barel, sedangkan Brent menguat 1,5 persen ke level 101,56 dollar AS per barel.
Pasar saham Asia bergerak melemah. Bursa Seoul, Tokyo, Hong Kong, Sydney, Shanghai, Singapura, Wellington, Taipei, hingga Manila ditutup di zona merah. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi pertama turun 0,08 persen.
Krisis di Selat Hormuz juga mengganggu lalu lintas pelayaran internasional. Organisasi Maritim Internasional PBB mencatat sekitar 1.500 kapal dan 20.000 awak kapal masih tertahan di kawasan Teluk akibat blokade Iran di jalur pelayaran strategis tersebut.
Sementara itu, konflik turut merembet ke Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 12 orang tewas akibat serangan udara Israel, termasuk dua anak dan seorang paramedis. Serangan terjadi sehari setelah Israel membunuh seorang komandan Hizbullah di Beirut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim operasi tersebut sebagai bagian dari langkah memburu pimpinan Hizbullah. “Tidak ada teroris yang kebal,” kata Netanyahu.
Di tengah memanasnya situasi regional, Lebanon dan Israel dijadwalkan menggelar putaran baru pembicaraan damai di Washington pada 14-15 Mei mendatang.
Dinamika geopolitik juga bergerak ke jalur diplomasi global. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan dirinya telah bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei untuk membahas proposal penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada saat bersamaan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu Paus di Vatikan guna membahas upaya perdamaian Timur Tengah di tengah ketegangan antara Washington dan Takhta Suci.
Sorotan dunia kini juga tertuju pada rencana pertemuan Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei. Agenda Iran diperkirakan menjadi salah satu pembahasan penting, meski hubungan perdagangan dan investasi tetap menjadi fokus utama kedua negara.
Analis Asia Society Policy Institute Lizzi Lee menilai perang Iran akan menambah tekanan baru dalam hubungan Washington-Beijing. Namun, menurut dia, medan negosiasi utama tetap berada pada sektor perdagangan dan investasi.
AS sebelumnya memperingatkan akan mengenakan tarif 50 persen terhadap barang-barang China apabila Beijing memberikan bantuan militer kepada Iran. Di sisi lain, China tetap menjadi mitra strategis Teheran sekaligus salah satu pembeli utama minyak Iran.
Kondisi tersebut membuat konflik di Timur Tengah kini bukan hanya persoalan keamanan regional, melainkan juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan politik global. (rih)





