PARIS | Upaya menghentikan perang di kawasan Timur Tengah kini kian bergantung pada keputusan Iran. Di tengah dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar proposal penghentian konflik segera disepakati, negara-negara Eropa mulai turun tangan dengan menawarkan jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Koalisi yang dipimpin Prancis dan Inggris menyatakan kesiapan menjamin keamanan maritim di jalur strategis tersebut apabila Teheran bersedia menerima proposal Washington untuk mengakhiri konflik. Pernyataan itu disampaikan Istana Kepresidenan Elysee di Paris, Rabu (6/5/2026).
Laporan Axios menyebutkan, Gedung Putih meyakini Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat dapat menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin sebagai tahap awal menuju perundingan yang lebih substantif.
“Kamj dapat menawarkan kepada Iran kemampuan untuk kembali melintasi Selat Hormuz. Kami dapat mengizinkan tanker mereka melewati Selat Hormuz dengan satu syarat, Iran harus setuju memulai perundingan substantif yang diminta AS,” kata seorang penasihat Presiden Prancis kepada Le Figaro.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan meningkatnya keterlibatan Eropa dalam meredakan ketegangan di kawasan Teluk Persia yang selama beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran pasar energi global.
Prancis juga mengirim sinyal militer yang kuat. Kelompok kapal induk penyerang yang dipimpin kapal induk Charles de Gaulle dikerahkan menuju Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bagian dari misi pengamanan pelayaran bersama Inggris di sekitar Selat Hormuz.
Menurut Istana Elysee, pembukaan kembali Selat Hormuz sebaiknya dipisahkan dari isu konflik maupun negosiasi politik lain karena menyangkut kepentingan bersama dunia internasional, terutama terkait stabilitas pasokan energi.
Eskalasi ketegangan di sekitar Iran sebelumnya memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar dunia. Situasi tersebut langsung mendorong kenaikan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional. (Sputnik/RIA Novosti/rih)





