ISTANBUL | Penilaian intelijen Amerika Serikat menunjukkan pemerintahan Iran tetap solid dan bahkan dinilai “semakin tangguh” meskipun menghadapi serangan bertubi-tubi dari Amerika Serikat selama dua pekan terakhir.
Laporan The Washington Post, Selasa (17/3), mengutip sumber-sumber terkait yang menyebut bahwa operasi militer gabungan AS dan Israel sejak 28 Februari tidak memicu “retakan atau pembelotan” yang signifikan dalam struktur kekuasaan Teheran.
Menurut temuan tersebut, meskipun serangan berhasil melemahkan kemampuan militer Iran, dampaknya tidak sampai menggoyahkan pemerintahan. Sebaliknya, sistem kekuasaan dinilai semakin mengakar, terutama di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Intelijen AS juga memperkirakan pemerintahan Iran akan tetap bertahan dalam waktu dekat, bahkan berpotensi semakin percaya diri. Hal itu berkaitan dengan persepsi bahwa Teheran mampu menghadapi tekanan dari mantan Presiden AS Donald Trump, yang disebut telah memberi lampu hijau terhadap eskalasi konflik bersama Israel.
Di sisi lain, laporan tersebut mencatat meningkatnya kekhawatiran di kalangan sekutu AS di kawasan. Mereka disebut “marah dan cemas” terhadap potensi konflik berkepanjangan serta risiko menjadi sasaran balasan langsung Iran. Infrastruktur sipil di sejumlah negara kawasan pun dinilai berada dalam ancaman.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia terus meningkat sejak serangan gabungan AS-Israel dilancarkan pada akhir Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target di Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional. (Anadolu/rih)

