Cantik

Must read

Dalam sekejap, ia menjadi wajah gerakan “Black Is Beautiful” — bukan sebagai simbol eksotis, tetapi sebagai representasi kekuatan, keanggunan, dan identitas.

Naomi Sims lahir di Mississippi tahun 1948 dan dibesarkan di Pittsburgh. Sejak kecil, Naomi Sims sering diejek karena kulitnya yang gelap dan dijauhi di sekolah.

Pengalaman ini menanamkan luka sekaligus tekad untuk membuktikan nilai dirinya di dunia.

Lalu Naomi Sims menjadi bukan hanya wajah cantik di majalah. Ia adalah pintu pembuka. Seorang pelopor yang berani menembus industri yang nyaris menolak kehadirannya.

Saat dunia modeling masih bersikukuh pada satu definisi sempit tentang kecantikan — kulit putih, rambut lurus, dan fitur Eropa — Naomi datang dengan kulit gelapnya yang bersinar dan tekad yang tak bisa ditolak.

Agensi menolaknya satu demi satu, dengan alasan yang kejam dan klise: “terlalu gelap.” Tapi Naomi tidak menunggu dunia berubah. Ia sendiri yang mengetuk pintu fotografer ternama Gosta Peterson dan mengubah nasibnya.

Pada tahun 1967, wajahnya muncul di sampul Fashions of the Times, lampiran New York Times.

Dua tahun kemudian, ia mencetak sejarah sebagai model kulit hitam pertama di sampul majalah Life.

Dalam sekejap, ia menjadi wajah gerakan “Black Is Beautiful” — bukan sebagai simbol eksotis, tetapi sebagai representasi kekuatan, keanggunan, dan identitas.

Tapi kisah Naomi tidak berhenti di dunia modeling. Ia mendirikan perusahaan wig dan produk kecantikan untuk wanita kulit hitam, menulis buku tentang perawatan diri, dan membuktikan bahwa kecantikan sejati bukanlah tentang menjadi diterima—tapi tentang menciptakan tempat sendiri.

Naomi hanyalah satu dari banyak nama yang diceritakan Nigel Barker dalam Models of Influence.

Melalui lensa buku ini, kita belajar bahwa kecantikan bukan sekadar estetika; ia adalah narasi sosial yang terus berubah.

Model-model seperti Carmen Dell’Orefice, Alek Wek, hingga Coco Rocha tidak hanya menjadi wajah dari zaman mereka, tapi juga pembentuknya.

Mereka membawa cerita tentang ketahanan, keberanian, bahkan perlawanan, semua tersampaikan lewat pose dan ekspresi yang memikat dunia.

Carmen Dell’Orefice, misalnya, memulai kariernya di usia 15 tahun dan terus menjadi wajah ikonik hingga usia 80-an.

Dengan rambut putihnya yang memesona dan sorot mata yang dalam, ia menunjukkan bahwa penuaan tidak menghapus kecantikan. ia menguatkannya.

Alek Wek, seorang pengungsi dari Sudan Selatan, hadir di dunia fashion Eropa dengan wajah dan warna kulit yang selama ini tidak dianggap laku. Tapi justru dari situ, ia mengubah paradigma: bahwa kecantikan Afrika bukan hanya eksotis, tetapi fundamental.

Kecantikan, sebagaimana ditunjukkan oleh model-model ini, adalah cermin zaman. Di era 1950-an, kemewahan feminin mewakili kebutuhan dunia akan stabilitas dan mimpi. Di 1960-an, androgini dan individualisme meledak bersama semangat perubahan budaya.

Tahun 1970-an membawa revolusi visual yang lebih lugas, sementara 1980-an adalah puncak kapitalisasi kecantikan, ketika wajah bisa dihargai jutaan dolar.

Lalu datang 1990-an dengan Kate Moss dan estetika waif, mengembalikan kejujuran dan kerapuhan sebagai bentuk baru dari keindahan.

Kecantikan bukan hanya soal rupa; ia adalah bahasa budaya. Lewat wajah-wajah yang dipilih untuk bersinar, kita melihat siapa yang diberi tempat, siapa yang dirayakan, dan siapa yang dilupakan.

Dari dekade ke dekade, standar kecantikan tak hanya berubah mengikuti tren mode, tapi juga mencerminkan pergolakan sosial, politik, dan teknologi.

Di era 1940–1950-an, kecantikan dipahat dalam bingkai keanggunan pasca-perang. Lisa Fonssagrives-Penn menjadi simbol glamor aristokratik.

Tapi di 1960-an, hadir gelombang baru: Twiggy, Jean Shrimpton, dan Veruschka membawa kebebasan, keunikan, dan kepribadian eksentrik ke panggung utama.

Tahun 1970-an menandai lahirnya representasi dan keaslian. Lauren Hutton dengan celah giginya, dan Naomi Sims sebagai model kulit hitam pertama yang menembus brand besar, membuka ruang untuk keragaman identitas.

Tapi 1980-an menggeser narasi menjadi komersialisasi besar-besaran, di mana wajah model menjadi merek global—Brooke Shields, Christie Brinkley, hingga Inès de la Fressange menjadi aset multimiliar.

Supermodel 1990-an seperti Naomi Campbell dan Linda Evangelista bukan hanya objek mode, tapi kekuatan industri. Namun, hadir pula gerakan androgini dan “real beauty” lewat wajah seperti Kate Moss dan Alek Wek yang menantang norma lama.

Memasuki abad ke-21, keragaman tumbuh. Dari Gisele Bündchen hingga Liya Kebede, dari Coco Rocha hingga Cara Delevingne—model kini bukan hanya wajah, tapi suara. Mereka mengadvokasi, membangun merek, dan meredefinisi kecantikan di era digital.

Hingga kini, di era digital, kekuatan berada di tangan sang model sendiri—mereka bisa membentuk citra mereka, berbicara tentang isu sosial, dan mempengaruhi jutaan orang hanya lewat satu unggahan.

Namun, tak semua kisah berakhir manis. Beberapa model menghadapi eksploitasi, tekanan mental, bahkan kecanduan.

Dunia fashion, seperti cermin masyarakat luas, punya sisi gelap yang kerap tersembunyi di balik kilauan lampu studio.

Tapi justru di sinilah muncul kekuatan dari mereka yang bertahan—yang tetap berdiri tegak dan menggunakan platform mereka untuk menyuarakan perubahan.

Nigel Barker, dalam bukunya, tidak menulis sekadar tentang model. Ia menulis tentang perempuan. Tentang manusia. Tentang perjuangan untuk dikenali di dunia yang terus berusaha mendiktekan bentuk, warna, dan usia yang layak disebut cantik.

Dan pada akhirnya, tulisan-tulisan itu menjadi pengingat bahwa kecantikan sejati bukanlah tentang kesempurnaan. Ia tentang keaslian. Tentang keberanian untuk tampil apa adanya, meski dunia berkata sebaliknya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang kecantikan hari ini, yang kita bicarakan lebih dari sekadar kulit mulus atau tubuh ideal.

Kita bicarakan tentang suara yang terdengar, tentang representasi yang hadir, dan tentang kekuatan untuk mengubah persepsi.

Karena kecantikan bukan hanya milik mereka yang tampil di catwalk. Kecantikan ada pada siapa saja yang memilih untuk jujur pada dirinya sendiri. Dan itu adalah bentuk paling radikal dari pesona.

RUJUKAN

Barker, N. (2015). _Models of Influence: 50 Women Who Reset the Course of Fashion._ Harper Design.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article