Di dunia yang selalu menyuruh kita untuk berpikir positif, ada sekelompok kecil orang yang memilih jalan berbeda—berpikir tentang hal-hal buruk. Bukan karena mereka pesimis tanpa harapan, tapi karena itulah cara mereka bertahan, bersiap, dan bahkan… berhasil.
Salah satunya adalah Katherine.
Ia seorang profesor sosiologi di universitas bergengsi. Cerdas, teliti, dicintai murid dan koleganya. Tapi sebelum setiap proyek besar, pikirannya dipenuhi kegelisahan: bagaimana jika risetnya gagal? Bagaimana jika pembicara yang ia undang batal datang? Bahkan saat merencanakan pesta perpisahan untuk rekan kerja, ia mengkhawatirkan apakah kursi cukup, apakah makanan sesuai selera, atau apakah ada tamu yang akan membuat keributan.
Bagi orang lain, ini mungkin tampak seperti kecemasan berlebihan. Tapi bagi Katherine, inilah cara agar segala sesuatunya berjalan baik. Ia bukan melarikan diri dari kegagalan—ia menghadapinya sebelum terjadi.
Julie K. Norem, penulis buku The Positive Power of Negative Thinking (2011), menyebut pendekatan ini sebagai pesimisme defensif —sebuah strategi di mana seseorang dengan sengaja membayangkan skenario terburuk agar bisa mempersiapkan diri secara menyeluruh. Dan yang mengejutkan? Orang-orang seperti Katherine seringkali tampil sama suksesnya—bahkan lebih konsisten—dibanding mereka yang hidup dengan penuh kepercayaan diri dan optimisme.
Katherine bukanlah pengecut. Ia hanya memilih untuk berdamai dengan rasa cemasnya. Daripada menolaknya, ia mengajak rasa cemas itu duduk bersama, mendengarkan semua ketakutannya, lalu menyusun rencana. Ia tidak berharap semuanya berjalan lancar—ia membuat semuanya berjalan lancar, dengan cara yang mungkin terlihat sunyi, bahkan gelap.
Tapi justru dari situlah terang itu datang.
Berpikir negatif bukan kelemahan. Bagi banyak orang, itu adalah bentuk cinta pada hidup yang realistis. Mereka tidak butuh afirmasi bahwa segalanya akan mudah. Yang mereka butuhkan adalah keyakinan bahwa mereka sanggup bertahan, bahkan ketika semuanya menjadi sulit.
Filsuf Stoik kuno menyebut ini _premeditatio malorum_ —seni membayangkan hal-hal buruk sebelum terjadi, bukan untuk membuat kita takut, tapi agar kita siap. Dalam dunia modern, kita mengenalnya sebagai pesimisme defensif. Sebuah seni bertahan hidup yang tersembunyi di balik bayang-bayang.
Jadi, lain kali kamu merasa terlalu banyak berpikir buruk sebelum presentasi, sebelum memulai bisnis, atau bahkan sebelum menyatakan cinta—jangan buru-buru menyalahkan dirimu. Mungkin kamu sedang menjadi seperti Katherine. Mungkin kamu sedang mempersiapkan dirimu, bukan menghindari. Mungkin kamu sedang berjalan di jalan sunyi… yang perlahan-lahan menuntunmu menuju terang.
Karena dalam hidup, bukan hanya optimisme yang membawa harapan. Terkadang, *berpikir negatif-lah yang menyelamatkan kita lebih dulu.(Edhy Aruman, Rempoa – 18 April 2025)

