Ayah

Must read

JAKARTA || Felix Hoffmann tidak pernah berniat menjadi pahlawan sains atau tokoh besar dalam sejarah medis. Ia bukan ilmuwan yang mengejar ketenaran, bukan pula sosok yang terobsesi dengan paten dan penghargaan.

Ia hanyalah seorang anak yang tidak tahan melihat ayahnya terus-menerus merintih kesakitan.

Lebih dari dua ribu tahun lalu, Hippocrates—Bapak Ilmu Kedokteran—mengobati pasien demam dan nyeri sendi dengan merebus akar serta daun pohon Willow. Resep alami itu kemudian terlupakan seiring berkembangnya zaman.

Namun, siapa sangka, ribuan tahun kemudian, cinta seorang anak terhadap ayahnya akan menghidupkan kembali warisan kuno itu dalam bentuk yang lebih kuat, lebih aman, dan akhirnya menyembuhkan jutaan manusia di seluruh dunia.

Dialah Felix Hoffmann, lahir pada 21 Januari 1868 di Ludwigsburg, Jerman. Ia adalah anak yang cerdas dan penuh belas kasih. Setelah menyelesaikan studi farmasi dan kimia di University of Munich dan meraih gelar Doktor pada tahun 1893, ia bekerja di perusahaan farmasi Bayer atas rekomendasi seorang ilmuwan besar, Profesor Adolf von Baeyer—peraih Nobel.

Tapi penemuan terbesarnya tidak dimulai di laboratorium. Ia dimulai di rumah, oleh rasa iba kepada ayahnya sendiri yang menderita osteoartritis parah. Ayahnya kerap mengeluh nyeri hebat, dan obat yang tersedia saat itu—dari ekstrak pohon Willow—justru menyebabkan sakit perut.

Hoffmann tak tinggal diam. Ia mulai membaca catatan kuno, menelusuri bagaimana Hippocrates dulu menyembuhkan nyeri dengan tanaman herbal. Ia mencoba menyempurnakan formula kuno itu, agar tetap menyembuhkan namun tak menimbulkan efek samping.

Pada 10 Agustus 1897, ia berhasil menciptakan bentuk baru dari senyawa tersebut: asam asetilsalisilat. Obat ini bekerja efektif meredakan nyeri dan peradangan, namun jauh lebih aman bagi lambung.

Sejatinya, Felix berhasil mensintesis dua zat ; asam asetilsalisilat—yang dikenal sebagai Aspirin—dan sebelas hari kemudian, diasetilmorfin, atau Heroin (De Ridder, 2000).

Kedua penemuan ini disampaikan kepada atasannya, Heinrich Dreser. Namun dunia menyaksikan kenyataan pahit: Dreser menolak Aspirin dan memilih Heroin untuk dikembangkan lebih lanjut. Aspirin dianggap kurang menarik; Heroin, sebaliknya, menjanjikan sensasi dan hasil yang langsung.

Heroin diluncurkan ke pasar sebagai “obat batuk anak-anak” dan pereda nyeri, sebelum akhirnya menjadi salah satu zat paling adiktif dan berbahaya dalam sejarah manusia.

Sementara itu, Aspirin—yang pada awalnya ditolak—harus menunggu beberapa tahun dan intervensi administratif sebelum akhirnya menjadi obat populer di seluruh dunia.

Keputusan Dreser untuk lebih memilih Heroin bisa jadi merupakan hasil dari bias kognitif yang tak disadarinya. Dalam dunia yang dipenuhi dengan ide—baik dari laboratorium, kerumunan, maupun proses crowdsourcing modern—tantangan bukan hanya menciptakan ide, tetapi juga memilih mana yang pantas dijalankan.

Kebaruan sebuah ide, seperti yang dialami Aspirin saat itu, bisa menjadi penghambat. Hal ini selaras dengan temuan, bahwa semakin baru dan tidak dikenal sebuah ide, semakin besar kemungkinan ditolaknya oleh evaluator yang cenderung menggunakan heuristik atau jalan pintas mental.

Dan melawan itu. Dia menjadikan ayahnya sebagai orang pertama yang mencoba senyawa itu. Dari sana, Hoffmann menyempurnakan dosisnya. Pada tahun 1899, Bayer mulai memproduksinya secara massal dengan nama dagang Aspirin. Nama itu diambil dari: “A” (asetil klorida), “Spir” (Spirae ulmaria, nama latin pohon Willow), dan akhiran “-in” dari istilah populer “medicine”.

Aspirin jadi fenomena. Obat ini bukan hanya menyembuhkan nyeri, tapi juga mencegah serangan jantung dan stroke, menyelamatkan jutaan jiwa. Bahkan, Aspirin menjadi tablet modern pertama yang dipasarkan dalam bentuk larut air sejak 1900—sebuah revolusi farmasi.

Aspirin menjadi simbol bahwa apa yang awalnya ditolak bisa menjadi warisan terbesar umat manusia. Sejarah menunjukkan bahwa ide yang baik akan menemukan jalannya

Ironisnya, pemerintah Jerman menolak memberi paten. Justru Amerika Serikat yang mengakui hak cipta tersebut pada tahun 1900.

Meskipun Bayer menjadi produsen utama selama bertahun-tahun, Felix Hoffmann sendiri tidak pernah menjadi kaya karena temuannya. Ia kembali hidup sederhana, tidak mengejar ketenaran, tidak meminta penghargaan.

Hoffmann meninggal pada 8 Februari 1946 di Swiss. Ia tak pernah tahu seberapa besar dampak dari penemuannya. Tapi hari ini, jutaan orang di seluruh dunia masih merasakan manfaat dari Aspirin. Dan semua itu dimulai dari seorang anak yang ingin mengurangi sakit di tubuh ayahnya.

Felix Hoffmann mengajarkan kita bahwa inovasi terbesar sering lahir dari rasa cinta yang paling sederhana. Ketika kasih menjadi bahan bakar penelitian, hasilnya tak hanya memecahkan masalah—ia mengubah dunia.

Felix Hoffmann bukan hanya ilmuwan. Ia adalah simbol dari dedikasi, simbol kecinntaan anak kepada bapaknya, kelembutan hati, dan kekuatan ide yang diperjuangkan dalam kesenyapan.(Edhy Aruman)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article