WASHINGTON | Militer Amerika Serikat dilaporkan kehilangan sedikitnya 16 unit drone tempur MQ-9 Reaper sejak operasi militer gabungan dengan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Informasi tersebut diungkap media CBS News pada Rabu (1/4/2026), mengutip dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, media pemerintah Iran pada Senin (30/3/2026) menyatakan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) berhasil mencegat dan menghancurkan salah satu drone MQ-9 milik AS di wilayah udara Isfahan. Klaim ini menambah panjang daftar kerugian perangkat tempur nirawak yang dialami Washington dalam eskalasi konflik terkini.
MQ-9 Reaper dikenal sebagai pesawat tanpa awak andalan militer AS untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Namun, drone ini juga memiliki kemampuan serangan presisi, menjadikannya salah satu instrumen penting dalam operasi militer modern. Nilai satu unit Reaper diperkirakan melampaui 30 juta dollar AS, tergantung pada varian dan konfigurasi yang digunakan.
Kehilangan belasan drone dalam waktu relatif singkat memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas dominasi udara yang selama ini diklaim Washington. Presiden Donald Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya menyatakan bahwa sistem pertahanan udara dan kemampuan peluncuran rudal Iran telah “hampir sepenuhnya dilumpuhkan” dalam serangan gabungan yang berlangsung sekitar satu bulan terakhir.
Namun, laporan terbaru ini menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan Iran kemungkinan masih signifikan, terutama dalam menghadapi operasi udara berbasis drone. Situasi ini berpotensi mengubah kalkulasi strategis kedua pihak di tengah konflik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah. (rih)

