Oleh : Edhy Aruman
Bagi Adinegoro, jurnalisme bukan soal gaji atau gengsi. Ia menulis dengan keyakinan bahwa satu kata yang jujur bisa lebih berarti daripada seribu janji kekuasaan.
Adinegoro adalah nama yang tidak asing dalam sejarah pers Indonesia. Dia adalah pelopor jurnalistik Indonesia.
Di tengah arus zaman yang membawa gejolak perubahan politik dan sosial, ia berdiri sebagai salah satu figur yang membawa wajah baru bagi jurnalisme di tanah air.
Dalam bukunya, ADINEGORO, Pelopor Jurnalisme Indonesia, Soebagijo IN menulis bahwa sosok Adinegoro tidak hanya dikenang sebagai penulis berita, tetapi sebagai pemikir yang menanamkan makna dan arah pada apa yang ditulisnya.
Dalam dirinya, jurnalisme bukan sekadar soal kecepatan laporan atau eksklusivitas informasi, melainkan soal sikap, etika, dan keberpihakan kepada nilai-nilai yang lebih besar dari sekadar berita harian.
Satu peristiwa yang menggambarkan prinsip hidup Adinegoro terjadi ketika ia diminta untuk mengikuti kunjungan Presiden Sukarno ke negara-negara Blok Timur. Kala itu, para wartawan yang menjadi bagian dari rombongan kepresidenan mendapat uang saku berupa dolar.
Uang itu dibagikan setiap hari sebagai tunjangan perjalanan.
Namun, praktik ini menjadi buah bibir karena ada anggapan bahwa para wartawan itu hanya tertarik ikut serta demi menerima uang saku tersebut. Maka muncullah istilah sinis: “wartawan tiga dollar.”
Adinegoro, yang saat itu sudah menjadi figur penting dalam dunia pers, tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya terhadap label tersebut. Ia merasa tidak nyaman berada di antara rekan-rekannya yang dianggap hanya mengejar keuntungan materi.
Dalam satu kesempatan, ia mengatakan, _“Saya yang sudah memberikan separoh dari umur saya untuk persuratkabaran, diberi uang harian tiga dollar. Sedangkan seorang anak muda yang usianya sebaya dengan anak saya, serta yang pendidikan maupun pengalamannya jauh berkurang mendapat lebih banyak.”_ (hal. 181).
Ungkapan ini mencerminkan integritasnya sebagai jurnalis yang telah lama mengabdikan diri bukan karena uang, tetapi karena keyakinan pada fungsi jurnalisme itu sendiri.
Lebih dari sekadar anekdot, peristiwa itu menegaskan posisi moral Adinegoro. Ia tidak memandang pekerjaannya sebagai sekadar profesi, melainkan bagian dari panggilan sejarah.
Ketika pada tahun 1957 Departemen Luar Negeri Indonesia mengirim rombongan wartawan ke Sidang Umum PBB untuk mendukung klaim Indonesia atas Irian Barat, Adinegoro termasuk dalam tim tersebut.
Meski tidak lagi menerima uang saku dolar, ia tetap bergabung demi kepentingan nasional. Ia tahu bahwa peran wartawan dalam peristiwa diplomatik semacam itu tidak bisa diremehkan.
Rombongan tersebut berangkat dari Jakarta, transit di Bangkok, lalu menyeberang ke Eropa hingga ke Amsterdam, sebelum akhirnya sampai di New York. Di sana mereka menyaksikan langsung jalannya sidang, melaporkan perkembangan, dan berdiskusi dengan berbagai pihak.
Perjalanan panjang itu bukan sekadar liputan, tetapi menjadi bagian dari kerja kolektif untuk mengawal kepentingan bangsa di forum internasional.
Di sela-sela tugas utama itu, Adinegoro dan rekan-rekannya bahkan sempat berkeliling Amerika, mempelajari praktik pers setempat, dan memperluas cakrawala mereka tentang bagaimana jurnalisme bekerja dalam konteks demokrasi yang berbeda.
Adinegoro bukan hanya menulis berita. Ia menulis arah. Ia menulis dengan kesadaran bahwa kata-kata yang dicetaknya bisa membentuk pandangan publik, dan bahkan memengaruhi arah kebijakan.
Dalam tiap kalimatnya ada keberanian, ada visi, dan ada keengganan untuk tunduk pada godaan kenyamanan atau penghargaan semu. Ia tetap berdiri tegak sebagai jurnalis yang mengutamakan nilai di atas keuntungan.

