MOSKWA | Rusia menyatakan kekhawatiran atas keputusan Prancis dan Inggris untuk meningkatkan persenjataan nuklir mereka. Moskwa menilai langkah tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan keamanan dan memengaruhi perencanaan militer Rusia di tengah dinamika geopolitik Eropa yang kian tegang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam konferensi pers Rabu (4/3), mengatakan London dan Paris berencana memperluas kemampuan nuklir mereka di luar kerangka pembatasan internasional. Menurut dia, kebijakan tersebut mencerminkan kecenderungan lama kedua negara yang dinilai enggan terlibat dalam perjanjian pengendalian senjata nuklir tertentu.
Zakharova menegaskan, peningkatan kapasitas nuklir di lingkungan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menuntut perhatian serius dari Moskwa. Ia menyebut, perkembangan itu memerlukan “pertimbangan yang sangat cermat” dalam pengembangan serta perencanaan militer Rusia ke depan.
Lebih jauh, Rusia memandang setiap skema pengendalian senjata nuklir pada masa mendatang yang melibatkan Moskwa harus memperhitungkan keseluruhan kemampuan nuklir negara-negara NATO. Posisi ini, kata Zakharova, menjadi prinsip dasar dalam sikap negosiasi Rusia.
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin (2/3) mengumumkan perintah penambahan jumlah hulu ledak nuklir Prancis sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan nasional. Ia juga menyatakan kesiapan memasukkan dimensi Eropa ke dalam konsep penangkalan nuklir tingkat lanjut Prancis.
Macron menyebut sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, menunjukkan ketertarikan terhadap gagasan tersebut. Paris, London, dan Berlin disebut akan memperluas kerja sama dalam proyek-proyek strategis, termasuk pengembangan rudal jarak sangat jauh, guna memperkuat kapabilitas pertahanan Eropa.
Pernyataan saling respons ini menandai babak baru dalam dinamika keamanan di kawasan Eropa, ketika isu modernisasi dan ekspansi kemampuan nuklir kembali menjadi sorotan di tengah ketidakpastian global. (rih)

