Oleh : Edhy Aruman
Dengan tegak, Walikota Mitch Landrieu berdiri di depan rakyatnya di New Orleans. Disitu dia menyatakan tekadnya untuk menghapus empat patung Konfederasi dari ruang publik The City That Care Forgot -yang diklaim sebagai lambang sikap santai, bebas, tapi terluka.
Ia tahu ia sedang menyalakan api di sebuah ladang kering. Ia tahu bahwa keputusan itu akan memicu kemarahan, protes, bahkan ancaman.
Patung-patung itu, bagi sebagian orang, dianggap simbol warisan sejarah. Tetapi bagi banyak lainnya, itu adalah monumen penindasan yang membayangi kehidupan mereka sejak kecil.
Landrieu memilih berpihak pada masa depan: ia ingin kota yang bisa dibanggakan oleh semua warganya, tanpa kecuali. Selama proses penghapusan, ia dicaci dan dianggap menghancurkan sejarah.
Di tengah jalan, langkahnya tampak seperti kegagalan. Tapi ia tetap berdiri. Dan hari ini, ia diakui sebagai pemimpin yang berani membawa New Orleans pada babak baru rekonsiliasi dan identitas bersama.
Inilah esensi dari Kanter’s Law, hukum perubahan yang dirumuskan oleh Rosabeth Moss Kanter: “everything looks like a failure in the middle.” Di setiap perubahan besar, pada titik tertentu, akan terlihat seperti kesalahan besar.
Di awal, kita bersemangat. Di akhir, kita bisa bangga. Tapi di tengah, saat energi mulai menurun, oposisi menguat, sementara hasilnya belum tampak. Pada kondisi seperti itu orang pun mulai ragu. Itulah zona rawan di mana impian diuji dan pemimpin dipertaruhkan.
CVS Health adalah contoh lain. Di dunia ritel yang begitu mengandalkan arus kas dan volume penjualan, keputusan untuk berhenti menjual rokok terdengar seperti bunuh diri bisnis. CEO mereka saat itu menerima banyak kritik.
Investor cemas. Pelanggan bingung. Tapi CVS bersikeras: jika mereka ingin menjadi pusat layanan kesehatan masyarakat, mereka tak bisa terus menjual produk yang membunuh. Dan mereka tidak hanya menghentikan penjualan, mereka memperkuat komitmen mereka dengan membuka klinik kesehatan di toko-toko mereka.
Hari ini, CVS adalah salah satu ikon transformasi berbasis nilai. Apa yang dulu terlihat sebagai kegagalan bisnis, kini jadi tonggak kepemimpinan etis.
Begitu pula dengan Vanessa Kirsch, pendiri Public Allies, organisasi yang kelak menjadi tempat Barack Obama memulai karier pengabdiannya.
Di awal pendiriannya, organisasi ini nyaris tidak punya dana dan dukungan. Banyak yang meragukan konsepnya: melatih pemuda dari latar belakang minoritas untuk jadi pemimpin publik? Terlalu idealis.
Tapi Kirsch tetap percaya. Ia menggali dana, membangun jaringan, dan menciptakan sistem kepemimpinan yang benar-benar menjangkau akar komunitas. Sekarang, Public Allies adalah gerakan nasional yang melahirkan pemimpin dari berbagai lini pelayanan publik.
Apa kesamaan dari semua kisah ini? Mereka semua melewati masa-masa ketika perubahan yang mereka perjuangkan tampak mustahil. Mereka semua menghadapi titik di mana orang bertanya: “Apakah ini ide yang buruk?”
Namun mereka tidak berhenti. Mereka tahu. Seperti yang diingatkan oleh Frances Frei dan Anne Morriss dalam Move Fast and Fix Things, data adalah sekutu terbaik dalam masa-masa krisis. Data menyuarakan arah, memberi kejelasan, dan menopang optimisme rasional.
Optimisme itu sendiri adalah bahan bakar yang tak kalah penting. Bukan optimisme kosong, tetapi harapan yang dibangun dari integritas, strategi yang jernih, dan keyakinan bahwa perubahan bermakna memang selalu disambut perlawanan.
Repetisi juga memainkan peran. Dalam dunia penuh kebisingan, mengulang pesan bukan kelemahan—itu strategi untuk memastikan pesan tidak hanya didengar, tapi dirasakan dan dihayati.
Kanter’s Law bukan sekadar prinsip organisasi. Ia adalah cermin bagi semua pemimpin, aktivis, wirausaha, dan siapapun yang mencoba membuat perbedaan. Jika saat ini kamu merasa perubahan yang kamu perjuangkan terlihat sia-sia, ingatlah: mungkin kamu hanya sedang berada di tengah.
Dan tengah bukanlah akhir. Tengah adalah tempat di mana karakter dibentuk dan sejarah ditulis.

