KOTA PROBOLINGGO || Dalam rangka menciptakan keamanan dan keselamatan berlalu lintas di wilayah hukumnya, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Probolinggo Kota terus menggencarkan kegiatan edukasi kepada para pengendara. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan himbauan tertib berlalu lintas.
Operasi Patuh Semeru 2025 yang dilaksanakan oleh Polres Probolinggo Kota resmi berakhir pada 27 Juli 2025 waktu lalu. Meski demikian, upaya membangun budaya tertib berlalu lintas terus digencarkan oleh Satuan Lalu Lintas, tidak hanya lewat penindakan tetapi juga melalui edukasi menyeluruh kepada masyarakat.
Kasat Lantas Polres Probolinggo Kota AKP Siswandi, menegaskan bahwa operasi ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari lima agenda besar dalam kalender kepolisian yang mencakup Operasi Keselamatan, Patuh, Zebra, Ketupat, dan Nataru.
“Semua operasi ini dilakukan berkesinambungan. Evaluasi dari Operasi Patuh kemarin, harapannya adalah bagaimana kita bisa mengubah budaya masyarakat agar lebih tertib berlalu lintas,” ujarnya.Rabu (30/7/2025).
Menurut Siswandi, masalah lalu lintas bukan hanya soal hukum, tapi juga soal budaya dan kebiasaan, seperti contohnya banyak pengendara masih menyepelekan aturan seperti menerobos lampu merah, tidak memakai sabuk pengaman, atau melawan arus dan lainnya.
“Masyarakat ini kalau tidak ada petugas, lihat kiri kanan kosong, larangan pun diterobos. Ini bukan hanya tugas polisi, tapi juga tanggung jawab bersama, termasuk wartawan, untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” tegasnya.
Sebagai bagian dari edukasi, Satlantas Polres Probolinggo Kota melakukan sosialisasi ke berbagai kalangan, mulai dari siswa TK hingga akademisi. Edukasi itu bertujuan mencetak pelopor keselamatan lalu lintas sejak usia dini.
Selama operasi berlangsung, banyaknya pengendara ditindak dengan teguran. Penindakan dilakukan melalui metode hunting system, bukan razia statis. Artinya, petugas berkeliling dan langsung menindak pelanggaran yang terlihat kasat mata.
“Tujuh pelanggaran yang jadi fokus utama yakni pengendara di bawah umur, penggunaan ponsel saat berkendara, tidak menggunakan sabuk pengaman, STNK tidak sesuai, knalpot brong, berboncengan lebih dari dua orang, dan pelanggaran batas kecepatan,” jelas Siswandi.
Meski penindakan dilakukan, Siswandi menekankan bahwa keberhasilan operasi tergantung pada kesadaran kolektif seluruh lapisan masyarakat.
“Kalau tidak dilakukan bersama-sama, perubahan budaya tertib lalu lintas sangat tidak mungkin tercapai. Ayo, mari kita semua jadi pelopor keselamatan di jalan raya,” pintanya.(Choy)

