Penulis : Tundra Meliala
LIBUR panjang bagi sebagian mungkin membawa wajah ganda. Di satu sisi, ia menjanjikan jeda –kesempatan bernapas dari hiruk-pikuk kerja, sekolah, dan rutinitas yang kian menyesakkan. Di sisi lain, libur juga menghadirkan kegelisahan: bagaimana mungkin bisa bebas bersenang-senang ketika banyak saudara sedang menderita?
Dua dekade terakhir, negara ikut memformalkan jeda itu melalui kebijakan cuti bersama. Sejak era awal 2000-an, cuti bersama menjadi praktik rutin birokrasi, memperpanjang hari libur nasional dan mendorong pergerakan massal penduduk. Data Kementerian Perhubungan mencatat, setiap libur panjang –Natal dan Tahun Baru, Lebaran, atau libur sekolah– puluhan juta orang berpindah kota. Pada libur Natal dan Tahun Baru 2024–2025, misalnya, pergerakan masyarakat diperkirakan menembus lebih dari 100 juta perjalanan. Hotel penuh, jalan padat, destinasi wisata sesak.
Namun, di saat yang sama, bencana tak ikut libur. Sepanjang 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 5.000 kejadian bencana, didominasi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Puncaknya banjir gelondongan di Sumatera bagian utara. Ribuan rumah rusak, ratusan warga meninggal, ribuan mengungsi, sebagian masih bertahan di hunian sementara hingga kini. Di beberapa wilayah, dapur umum tetap mengepul saat tempat wisata ramai oleh swafoto.
Di sinilah libur menjadi dilema eksistensial. Apakah liburan adalah bentuk ketidakpedulian? Atau justru mekanisme bertahan hidup di tengah realitas yang terus menekan?
Psikologi memberi satu jawaban yang tidak hitam-putih. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kelelahan mental dan stres kronis sebagai salah satu ancaman kesehatan global. Survei Kesehatan Mental Nasional Indonesia (2023) menunjukkan lebih dari 30 persen responden dewasa mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang, dipicu tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja, dan paparan informasi buruk yang nyaris tanpa jeda. Dalam konteks ini, libur bukan kemewahan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kewarasan.
Tetapi kewarasan macam apa yang dibangun dari lupa?
Libur sering kali dipraktikkan sebagai pengalihan total: menutup mata dari berita, mematikan empati, dan menganggap penderitaan sebagai latar yang mengganggu suasana. Padahal, ada jutaan orang yang tak pernah punya pilihan untuk “rehat”. Korban bencana yang masih mencari rumah, keluarga miskin yang bertahan dari hari ke hari, anak-anak yang liburnya diisi kelaparan. Ada pula para relawan, tenaga kesehatan, polisi, dan tentara yang justru bekerja lebih panjang saat orang lain pulang ke pangkuan keluarga. Pada setiap libur besar, ribuan tenaga medis tetap berjaga di rumah sakit rujukan, sementara aparat keamanan bekerja ekstra mengamankan arus mudik dan destinasi wisata.
Libur, dengan demikian, juga adalah cermin ketimpangan.
Pertanyaan pentingnya bukan apakah kita boleh berlibur, melainkan bagaimana kita berlibur. Apakah libur hanya tentang konsumsi –menghabiskan uang, energi, dan ruang– atau juga tentang kesadaran sosial? Apakah jeda hanya dimaknai sebagai pelarian, atau sebagai ruang refleksi untuk kembali dengan keberpihakan yang lebih jernih?
Kewarasan yang rapuh adalah kewarasan yang hanya bertahan selama libur. Ia runtuh begitu kalender kembali normal dan realitas kembali menekan. Sebaliknya, kewarasan yang berkelanjutan justru lahir dari kemampuan menatap penderitaan tanpa tenggelam di dalamnya –dan bertindak, meski kecil.
Libur bisa menjadi ruang untuk itu. Mengingat bahwa kenyamanan kita berdiri di atas kerja banyak orang lain. Bahwa privilege untuk beristirahat bukanlah hak universal. Bahwa empati tidak harus menghilangkan kegembiraan, tetapi kegembiraan pun tak boleh mematikan empati.
Mungkin itulah makna libur yang lebih dewasa: bukan menafikan luka-luka sosial, melainkan memberi diri cukup tenaga agar setelah libur usai, kita tak kembali sebagai individu yang sama –acuh, lelah, dan pasrah– melainkan sebagai warga yang masih waras, masih peduli, dan masih mau terlibat.
Sebab negeri ini terlalu lelah jika kewarasan hanya menjadi urusan pribadi.

