Law of Attraction

Must read

JAKARTA || Jim Carrey pernah menulis sebuah cek. Bukan dari bank, bukan pula untuk orang lain. Angkanya mencolok: 10 juta dolar. Ia tulis sendiri, untuk dirinya sendiri, lalu diselipkan di dalam dompet yang menemaninya ke mana-mana.

Saat itu, kehidupannya jauh dari gemilang. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang begitu yakin. Bayaran itu suatu hari akan datang.

Lima tahun kemudian, tepat saat kertas itu mulai usang, ia menerima bayaran sebesar itu untuk film Dumb and Dumber.

Banyak yang menyebut itu kebetulan. Tapi mungkin, ada kekuatan yang lebih halus bekerja di balik layar: keyakinan, visualisasi, dan getaran harapan yang terus dipelihara dalam diam.

Oprah Winfrey percaya, apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang akan mempengaruhi arah hidupnya. Lady Gaga menulis afirmasi sejak remaja, menyebut dirinya seorang superstar jauh sebelum panggung itu benar-benar ada. Will Smith pun tak segan mengakui bahwa keyakinan positif dan pikiran jernih adalah fondasi dari banyak kesuksesan.

Hukum Tarik-Menarik—The Law of Attraction—mengajarkan bahwa setiap pikiran, setiap emosi, setiap kata-kata yang terlontar, memancarkan getaran. Dan semesta, dalam cara kerja yang tak selalu bisa dijelaskan logika, merespons getaran itu. Energi yang dipancarkan akan kembali dalam bentuk peristiwa, orang, atau peluang.

Michael J. Losier, dalam bukunya yang berjudul Law of Attraction: The Science of Attracting More of What You Want and Less of What You Don’t, menjelaskan prinsip ini dengan cara yang sederhana sekaligus praktis.

Ia menyebut bahwa apa pun yang menjadi fokus, akan tumbuh. Pikiran tentang ketakutan dan kekurangan, tanpa sadar, justru memperkuat keduanya. Sebaliknya, saat seseorang jujur dengan keinginannya, merasakannya seolah sudah terjadi, lalu bertindak selaras—itulah saat semesta mulai menyusun jalannya.

Prosesnya terdiri dari tiga tahap: mengenali keinginan dengan jernih, memberikan perhatian yang tulus, dan mengizinkan hal itu hadir tanpa hambatan—dengan cara menyingkirkan keraguan dan keyakinan yang membatasi.

Dalam bisnis, prinsip ini berlaku pula. P.J. DiNuzzo, seorang pelatih kewirausahaan, percaya bahwa energi awal menentukan jalannya kemitraan. Ketika sebuah relasi dimulai dengan ketulusan dan niat baik, peluang kerja sama yang sejalan akan jauh lebih mudah ditemukan.

Mungkin tidak semua orang menulis cek 10 juta dolar untuk dirinya sendiri. Tapi semua orang bisa memiliki satu momen keheningan, untuk bertanya: apa yang sungguh diinginkan? Dan dari situ, mulai merawat keyakinan kecil itu setiap hari.

Bukan dengan harapan kosong, tapi dengan perhatian yang konsisten, tindakan yang selaras, dan kata-kata yang dijaga. Karena terkadang, perubahan besar tidak dimulai dari langkah besar—melainkan dari satu pikiran yang diyakini, dan satu perasaan yang dijaga.

Dan ketika getaran itu selaras, realitas pun pelan-pelan akan mengikuti.

(Edhy Aruman, Rempoa 19 April 2025)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article