Konflik Meluas di Timur Tengah, PBB Catat Ratusan Korban Sipil dan Gangguan Operasi Kemanusiaan

Must read

NEW YORK | Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memperburuk situasi kemanusiaan. Puing misil dan drone yang berjatuhan, pembatasan ruang udara, serta rangkaian aksi permusuhan dilaporkan meningkatkan korban sipil, merusak infrastruktur, dan mengganggu layanan vital masyarakat.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), Selasa (3/3/2026), menyatakan operasi kemanusiaan di kawasan terdampak parah akibat ketidakamanan, gangguan rantai pasok, serta penutupan ruang udara.

“Operasi kemanusiaan di seluruh kawasan tersebut terdampak parah oleh ketidakamanan, gangguan rantai pasok, dan penutupan ruang udara,” demikian pernyataan OCHA.

Di Iran, otoritas setempat bersama Iranian Red Crescent Society melaporkan serangan sejak Sabtu (28/2) berdampak pada lebih dari 1.000 lokasi. Sekitar 790 orang dilaporkan meninggal dan hampir 750 lainnya terluka. Sejumlah serangan disebut menghantam kawasan permukiman padat, memicu kerusakan infrastruktur sipil.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan Sekjen Antonio Guterres memantau situasi dengan keprihatinan mendalam.

“Dia sangat khawatir tentang munculnya berbagai front baru. Kami juga menyaksikan peningkatan jumlah korban sipil dan dampak kemanusiaan yang parah terhadap kesejahteraan masyarakat di seluruh kawasan itu,” ujar Dujarric dalam konferensi pers rutin, Senin (2/3).

Menurut dia, serangan berulang terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk berpotensi berdampak dramatis terhadap ekonomi global yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Di perbatasan Israel-Lebanon, aktivitas militer di sepanjang Garis Biru yang diawasi Pasukan Sementara PBB di Lebanon, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dinilai sangat mengkhawatirkan. Dalam dua hari terakhir, UNIFIL mencatat puluhan roket dan misil ditembakkan ke Israel yang diklaim Hizbullah, disertai serangan udara dan insiden penembakan dari selatan Garis Biru oleh Israel ke wilayah Lebanon.

Sementara itu, di Gaza, OCHA melaporkan otoritas Israel membuka kembali perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem pada Selasa untuk memasukkan 500.000 liter bahan bakar serta bantuan kemanusiaan melalui Israel dan Mesir.

Kebutuhan bahan bakar di Gaza diperkirakan mencapai sekitar 300.000 liter per hari guna menjaga operasi kemanusiaan krusial tetap berjalan. OCHA menegaskan, pasokan harus masuk secara konsisten hingga solusi jangka panjang penyediaan listrik tercapai. Adapun pelintasan Rafah dan Zikim masih ditutup, sementara rotasi staf kemanusiaan internasional belum kembali diizinkan.

Di Tepi Barat, sebagian besar pos pemeriksaan dilaporkan tetap ditutup, membatasi mobilitas warga Palestina untuk mengakses layanan dasar dan mata pencaharian. Kondisi ini juga menghambat distribusi bantuan.

OCHA mencatat, pada Senin, dua warga Palestina tewas dan tiga lainnya terluka dalam penyerbuan pemukim Israel ke Desa Qaryut di Nablus.

Under-Secretary-General PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, menilai dampak eskalasi kekerasan di kawasan tersebut semakin mengkhawatirkan. OCHA, kata dia, meningkatkan operasi di lokasi yang memungkinkan, serta mengaktifkan rencana kontinjensi di Iran dan sejumlah wilayah lain, termasuk Lebanon, wilayah Palestina yang diduduki, Suriah, dan Yaman.

“Keterbatasan kehadiran lembaga swadaya masyarakat internasional dan ruang operasional di Iran membuat tantangan di sana menjadi lebih besar,” ujar Fletcher dalam pernyataan di New York.

Ia menambahkan, penghormatan terhadap hukum kemanusiaan internasional kembali diuji. Setiap serangan terhadap infrastruktur sipil, pembatasan akses, dan politisasi bantuan, menurut dia, akan semakin menyempitkan ruang aksi kemanusiaan dan mempersulit upaya menjangkau masyarakat terdampak. (rih)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article