Oleh : Edhy Aruman
Arthur C. Brooks adalah penulis, profesor Harvard, dan mantan presiden American Enterprise Institute.
Ia dikenal atas karya-karyanya tentang kebahagiaan, kesuksesan, dan makna hidup, khususnya bagi para profesional berprestasi.
Di sebuah penerbangan malam dari Los Angeles ke Washington D.C., Brooks duduk terpaku di kursinya, tenggelam dalam pekerjaan yang seolah tak ada habisnya.
Di balik layar laptopnya, terdengar percakapan lirih dari kursi belakang. Seorang pria tua berkata pada istrinya, “Akan lebih baik jika aku mati.”
Kalimat itu menghentikan segalanya.
Brooks menoleh, dan saat pesawat mendarat, ia menyadari siapa pria itu: seorang tokoh nasional, mantan pahlawan yang begitu dihormati karena keberaniannya di masa lalu.
Namun di usia senja, dengan segala gelar dan penghargaan yang pernah disandangnya, ia merasa kosong, tak lagi berguna.
Momen itu menjadi titik balik bagi Brooks. Ia mulai menyelami pertanyaan yang selama ini tak pernah mendapat ruang: mengapa orang-orang yang sangat sukses justru bisa terjebak dalam rasa hampa?
Brooks tidak berbicara dari menara gading. Ia sendiri berada di puncak karier saat itu. Dia itu presiden think tank bergengsi, penulis buku laris, pembicara yang dielu-elukan.
Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang tak bisa disangkal. Seluruh tujuan yang dahulu dipasang dengan penuh semangat kini telah tercapai, tetapi rasa puas tak juga hadir.
Ia menyebut ini sebagai “kutukan pencari prestasi” , sebuah kondisi ketika pencapaian tak lagi membawa kebahagiaan, melainkan menjadi beban yang terus menghantui (Brooks, 2022).
Kisah Brooks hanyalah satu dari banyak. Seorang wanita sukses di Wall Street, meski telah mengumpulkan kekayaan dan penghargaan, mengaku bahwa hidupnya tak lagi menyenangkan.
Pernikahannya hambar, hubungan dengan anak-anaknya renggang, dan kesepiannya kian terasa.
Ketika ditanya mengapa tidak berhenti, jawabannya sederhana dan getir: “Mungkin saya lebih suka menjadi istimewa daripada bahagia.”
Kesuksesan sering dianggap sebagai puncak dari segala usaha. Namun bagi sebagian orang, terutama mereka yang terbiasa hidup dalam pencapaian, kesuksesan berubah menjadi candu.
Dorongan untuk terus relevan, diakui, dan dikagumi perlahan menggerus kemampuan untuk menikmati hidup apa adanya.
Kesuksesan yang semula menjadi sumber kebanggaan justru berubah menjadi ketergantungan yang diam-diam melelahkan.
Kecanduan ini bukan sekadar tentang bekerja keras. Ia tumbuh dari kebutuhan akan validasi, dari rasa takut kehilangan identitas yang telah lama dibentuk oleh prestasi demi prestasi.
Banyak yang menyamakan nilainya sebagai manusia dengan peran dan pekerjaannya. Dan ketika peran itu mulai memudar, muncul ketakutan akan kekosongan yang tak tertahankan.
Linus Pauling, ilmuwan legendaris dengan dua penghargaan Nobel, menghabiskan tahun-tahun akhirnya dengan menyuarakan teori-teori yang kemudian terbukti keliru.
Obsesi terhadap relevansi membawanya menjauh dari pencapaian ilmiah sejatinya. Demikian pula John DeLorean, yang setelah melihat masa depannya suram, memilih jalur yang justru membawanya pada kehancuran.
Namun ada pula yang memilih arah berbeda. Luther Kitahata, pengusaha yang telah membangun tujuh perusahaan, akhirnya menyadari bahwa pengejaran tanpa henti terhadap prestasi tidak membawa ketenangan.
Ia mundur dari dunia bisnis dan menemukan makna dalam spiritualitas dan kebersamaan dengan keluarga. Barulah saat itu ia benar-benar merasa damai.
Arthur Brooks kemudian mengenalkan gagasan tentang “kurva kedua” ,pergeseran dari fase yang mengandalkan kejernihan dan inovasi menuju fase yang menumbuhkan kebijaksanaan dan pemberdayaan. Bukannya terus mendaki puncak baru, ia memilih jalan berbagi.
Dari menciptakan karya, beralih menjadi pemandu bagi orang lain yang tengah meniti jalan serupa.
Pergeseran ini tidak mudah, tetapi menghadirkan kedalaman yang tak pernah ditemukan dalam perlombaan sebelumnya.
Ketika kekuasaan dianggap sebagai ukuran tertinggi kesuksesan, maka mempertahankannya menjadi obsesi.
Dalam kondisi ini, kekuasaan tak lagi menjadi sarana untuk melayani atau mencipta dampak positif, melainkan tujuan itu sendiri, yakni sebuah kebutuhan yang tak pernah terpenuhi.
Seperti kecanduan lainnya, candu kuasa menumpulkan empati, merusak relasi, dan sering kali menjerumuskan pada kehancuran diri.
Kesuksesan memang memberikan rasa pencapaian. Namun pada akhirnya, yang bertahan bukanlah prestasi, melainkan kehadiran yang tulus, relasi yang terjaga, dan kebebasan untuk mencintai hidup meski tanpa sorotan.
Tokoh seperti Johann Sebastian Bach pernah mengalami penurunan relevansi ketika gaya musiknya dianggap usang.
Namun alih-alih mengejar popularitas baru, ia menulis karya-karya pengajaran yang kemudian diakui sebagai mahakarya. Ia menutup hidupnya bukan dalam kekalahan, melainkan dalam kebermaknaan.
Tidak semua orang berani melepaskan sorotan. Namun bagi yang berani menempuh jalan sepi itu, terbuka ruang untuk menjadi utuh. Bukan karena dipuja, melainkan karena akhirnya mengenal dirinya tanpa topeng peran.
Kebahagiaan tidak selalu lahir dari keberhasilan. Ada kebahagiaan yang justru tumbuh saat tak lagi merasa perlu menjadi luar biasa—saat cukup menjadi manusia seutuhnya, dengan segala kekuatan dan kelemahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Brooks, A. C. (2022). From Strength to Strength: Finding Success, Happiness, and Deep Purpose in the Second Half of Life. Portfolio/Penguin.

