Kata-kata adalah kunci yang dapat membuka hati, pikiran, dan peluang baru.
Guy Raz adalah seorang jurnalis dan podcaster ternama. Dia dikenal sebagai pembawa acara TED Radio Hour dan pendiri podcast populer How I Built This.
Ia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah percakapan sehari-hari menjadi kisah yang memikat hati.
Baginya, setiap cerita bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan perjalanan manusia dengan segala pasang surutnya.
Raz selalu mampu menyingkap pelajaran berharga di balik kegagalan, sekaligus menyoroti keberhasilan dengan cara yang membumi.
Ketika ia mewawancarai pengusaha, ia tidak hanya bertanya, “Bagaimana Anda sukses?” tetapi juga, “Apa yang membuat Anda gagal, dan apa yang Anda pelajari darinya?”
Itulah kekuatan narasi Guy Raz — mencampur kejatuhan dan kemenangan sehingga audiens merasa terhubung.
Pendekatan Raz ini sejajar dengan gagasan Jonah Berger dalam bukunya Magic Words: What to Say to Get Your Way (2023).
Berger menegaskan bahwa kata-kata bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga kekuatan yang bisa mengubah pikiran, membentuk tindakan, bahkan menentukan arah hidup seseorang.
Ia menyebutnya sebagai kata-kata ajaib —f rasa sederhana yang terbukti secara ilmiah mampu membuka pintu persuasif dan emosional.
Salah satu kisah paling menyentuh adalah tentang Jasper, putra Berger sendiri. Pada usia satu tahun lebih sedikit, Jasper mulai mengucapkan kata “peas,” sebagai usaha untuk mengatakan please atau tolong.
Saat ia menginginkan sesuatu namun tidak segera mendapatkannya, ia akan menatap mata lawan bicaranya, mengangguk, lalu berkata, “Peas.”
Berger menulis: “Peas was the first time he realized that words have power. That they drive action.”
Inilah momen di mana seorang anak kecil menemukan kata ajaib pertamanya — “tolong.”
Kekuatan kata sederhana juga dibuktikan dalam Eksperimen Mesin Fotokopi Harvard. Seorang peneliti meminta izin untuk memotong antrean dengan kalimat biasa: “Excuse me, I have five pages. May I use the Xerox machine?
Hasilnya, sebagian orang mengizinkan.
Tetapi ketika kalimat itu ditambahkan kata “because” — “May I use the Xerox machine, because I’m in a rush” — persuasi meningkat lebih dari 50 persen.
Bahkan, ketika alasannya tidak masuk akal — “because I have to make copies” — hasilnya tetap sama.
Kata “because” saja sudah cukup membuat orang lebih patuh.
Tokoh lain yang diangkat Berger adalah Donald Trump. Meskipun gaya bicaranya sering dianggap repetitif dan sederhana, ia mampu memikat pendengarnya.
Trump sering menggunakan pengulangan dan pernyataan tegas, misalnya, “I beat China all the time. All the time.”
Kata-kata itu bukanlah argumen logis yang dalam, tetapi energi keyakinan yang disampaikan. Dari Trump kita belajar bahwa percaya diri dalam bahasa sering lebih kuat daripada isi pesan itu sendiri.
Berger juga mengangkat penelitian William O’Barr, seorang antropolog yang meneliti gaya bicara di ruang sidang. Ia menemukan bahwa saksi yang berbicara dengan “gaya kuat”—tanpa kata pengisi seperti “um” atau “maybe” — dianggap lebih kredibel, meskipun fakta yang disampaikan sama.
Hasilnya luar biasa: juri cenderung memberikan ganti rugi ribuan dolar lebih besar hanya karena gaya bahasa saksi terdengar lebih tegas.
Bahasa juga mampu membentuk identitas. Di Bing Nursery School, para peneliti meminta anak-anak usia lima tahun untuk membereskan mainan. Ketika diminta dengan kata kerja—“Can you help clean up?” — hasilnya biasa saja.
Namun ketika diminta dengan kata benda — “Can you be a helper?” — tingkat kepatuhan meningkat hampir sepertiga.
Hanya dengan menambahkan akhiran -er, tindakan berubah menjadi identitas.
Anak-anak merasa menjadi “penolong,” bukan sekadar melakukan tindakan kecil.
Prinsip ini berlaku luas. Penelitian menunjukkan bahwa mengatakan “Don’t be a cheater” lebih efektif daripada “Don’t cheat.” Begitu pula dalam motivasi pribadi, frasa “I don’t eat cake” jauh lebih kuat daripada “I can’t eat cake.”
Seperti ditulis Berger: “Saying ‘I don’t’ rather than ‘I can’t’ more than doubled people’s ability to avoid temptation and stick to their goals.”
Kata “tidak” memberi kendali internal, bukan sekadar larangan eksternal.
Kekuatan kata-kata juga terlihat dalam penelitian Carol Dweck dan Claudia Mueller. Mereka menemukan bahwa memuji anak dengan kalimat “You are smart” justru menurunkan motivasi saat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, memuji usaha dengan kata “You worked hard” membuat anak lebih gigih dan termotivasi.
Kata pujian sederhana mampu membentuk pola pikir: apakah seseorang melihat kemampuan sebagai bawaan tetap atau sebagai hasil kerja keras.
Guy Raz pernah mewawancarai Dave Anderson, pendiri Famous Dave’s. Awalnya Dave kesal karena Raz terus menanyakan kegagalannya. Namun kemudian ia menyadari bahwa membicarakan kegagalan justru membuatnya lebih manusiawi dan inspiratif bagi pendengar. Inilah yang disebut Berger sebagai pratfall effect — kesalahan kecil bisa membuat orang kompeten lebih disukai.
Kisah lain yang mencerminkan keajaiban bahasa datang dari musik. Lil Nas X dengan lagunya Old Town Road berhasil menembus genre dan menjadi fenomena global.
Ia mencampurkan kata-kata country seperti “cowboy, horse, banjo” dengan nuansa hip-hop seperti “Gucci, Maserati, Porsche.”
Campuran bahasa inilah yang menjadikannya unik dan menarik perhatian jutaan pendengar.
Semua kisah ini—dari Jasper yang berkata “peas”, peneliti Harvard dengan kata “because”, hingga Guy Raz dan para narasumbernya—mengajarkan hal yang sama: kata-kata adalah kunci yang dapat membuka hati, pikiran, dan peluang baru.
Akhirnya, kita menyadari bahwa kata-kata ajaib tidak perlu rumit. Mereka bisa sesederhana “tolong”, “karena”, atau “saya tidak.”
Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kekuatan besar untuk memengaruhi, membangun, dan menginspirasi. Kata-kata adalah jendela menuju perubahan — baik dalam diri kita maupun dunia di sekitar kita.Edhy Aruman
RUJUKAN
Berger, J. (2023). _Magic words: What to say to get your way. Harper Business.
Raz, G. (2020). How I built this: The unexpected paths to success from the world’s most inspiring entrepreneurs. Mariner Books.

