Jernih: Saat Kita Berhenti Memercayai Segala Isi Pikiran

Must read

Don’t Believe Everything You Think mengajak kita mengosongkan cangkir; membiarkan pikiran lama mereda, memberi ruang pada kesadaran baru, dan menyadari bahwa kehidupan yang kita rasakan bukan berasal dari dunia luar, melainkan dari cerita yang kita yakini.

Seorang cendekiawan pernah mendatangi seorang Master Zen untuk meminta nasihat tentang pencerahan.

Namun, setiap kali sang Master hendak berbicara, si cendekiawan langsung menyela dengan pendapat dan pengalaman-pengalamannya.

Alih-alih marah, Master Zen mengajaknya minum teh.

Dengan tenang, sang Master menuangkan teh ke cangkir tamunya. Namun, ia tidak berhenti meskipun cangkir itu telah penuh. Teh meluap, membasahi meja dan jubah cendekiawan.
“Hentikan! Cangkir itu sudah penuh! Tidakkah Anda lihat?” seru sang cendekiawan.

Master Zen tersenyum dan berkata, “Benar sekali. Kamu seperti cangkir ini; terlalu penuh oleh ide dan keyakinanmu sendiri, hingga tak ada ruang bagi hal baru. Datanglah kembali padaku ketika cangkirmu sudah kosong.”

Kisah itu mengandung pelajaran sederhana namun mendalam: selama pikiran kita dipenuhi keyakinan lama, ketakutan lama, dan pola pikir lama, mustahil bagi kebijaksanaan baru untuk masuk. Kita tidak benar-benar mendengarkan kenyataan, melainkan hanya memutar ulang isi kepala kita sendiri.

Inilah alasan mengapa Don’t Believe Everything You Think terasa begitu relevan. Karena, banyak penderitaan manusia lahir bukan dari dunia luar, melainkan dari pikiran yang terus kita percaya tanpa disadari.

Joseph Nguyen, penulis buku itu, mengaku menghabiskan bertahun-tahun mengejar perbaikan diri demi menghilangkan penderitaannya. Ia membaca buku-buku psikologi, mencoba terapi, mengubah pola makan dan kebiasaan, melakukan shadow work, meditasi, mengikuti retret spiritual, bahkan belajar dari para master terkenal.

Namun, meski semuanya memberi sedikit kelegaan, gelombang kecemasan dan rasa tidak cukup terus kembali. Ia tetap merasa kosong, frustrasi, tersesat, dan tak menemukan pegangan. Alih-alih membaik, pencarian panjang itu justru membuatnya lebih penat dan bingung.

Pada saat ia mencapai masa tergelapnya, ia bertemu seorang mentor yang memperkenalkannya pada pemahaman tentang cara pikiran bekerja dan bagaimana pengalaman manusia sebenarnya tercipta.
Tiba-tiba, semua usaha yang dulu terasa buntu mulai menemukan maknanya.

Pada akhirnya, dia melihat akar penderitaannya bukan pada dunia di luar dirinya, melainkan pada thinking. Pada aktivitas mental tak terkendali yang terus mengulangi ketakutan, interpretasi, dan cerita lama.

Salah satu momen pencerahan lain datang melalui kisah cintanya dengan Makenna. Suatu ketika Joseph bertanya mengapa Makenna mencintainya.

Dengan polos ia menjawab bahwa ia “Tidak tahu mengapa. Ia hanya tahu bahwa ia mencintainya, sangat.”

Joseph sendiri punya daftar panjang alasan mengapa ia mencintainya: senyumnya, kecerdasannya, kebaikan hatinya.

Namun beberapa waktu kemudian ia menyadari sesuatu yang menakjubkan: jika cintanya bergantung pada alasan tertentu, cinta itu sebenarnya bersyarat.

Sebaliknya, Makenna tidak bisa menyebutkan alasannya karena ia tidak mencintai Joseph karena sesuatu. Ia mencintainya tanpa syarat.

Cinta itu tidak bersumber dari luar, melainkan dari kelimpahan di dalam dirinya sendiri.
Pemahaman serupa juga hadir ketika Joseph berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh pikiran terhadap pengalaman. Ia mengajak pembacanya membayangkan pekerjaan yang sangat dibenci. Pekerjaan yang membuat stres, marah, atau frustrasi.

Padahal, secara fisik, pembaca bisa saja sedang duduk nyaman di sofa bersama keluarga.
Seketika menjadi jelas bahwa penderitaan itu bukan berasal dari pekerjaan nyata, tetapi dari pikiran tentang pekerjaan itu.

Pikiran mampu menciptakan “realitas” emosional yang sama sekali berbeda dari keadaan fisik yang sebenarnya.

Dari sinilah Joseph membedakan thought  (pikiran murni yang netral) dan thinking  (aktivitas mental yang menempelkan penilaian, ketakutan, dan cerita tertentu).

Thought itu ringan, spontan, kreatif. Thinking-lah yang berat dan menimbulkan penderitaan. Contoh paling sederhana adalah ketika kita memikirkan jumlah penghasilan impian. Thought muncul dengan cepat dan menyenangkan. Namun ketika kita mulai thinking, muncul keraguan, kecemasan, pembatasan, dan rasa tidak layak.

Para inovator besar memahami hal ini bahkan sebelum ada istilahnya. Thomas Edison tidur sambil menggenggam bola baja agar ia terbangun saat memasuki fase tidur tertentu. Itu karena di momen non-thinking itu, solusi kreatif muncul.

Einstein bermain biola untuk memasuki ruang mental yang hening, dan jawaban “tiba entah dari mana.”

Mereka tahu bahwa kejeniusan tidak lahir dari berpikir keras, melainkan dari berhenti memercayai pikiran lama dan memberi ruang bagi sesuatu yang baru.

Pada akhirnya, Don’t Believe Everything You Think mengajak kita mengosongkan cangkir; membiarkan pikiran lama mereda, memberi ruang pada kesadaran baru, dan menyadari bahwa kehidupan yang kita rasakan bukan berasal dari dunia luar, melainkan dari cerita yang kita yakini.

Ketika kita berhenti mempercayai semua isi kepala kita, kita mulai melihat kenyataan dengan lebih jernih. Dan di sanalah keajaiban terjadi.Edhy Aruman

DAFTAR PUSTAKA
Nguyen, J. (2022). Don’t believe everything you think: Why your thinking is the beginning & end of suffering. Independently Published.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article