ISTANBUL || Iran menegaskan masih memegang kendali penuh atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan pejabat militer Iran di tengah eskalasi ketegangan antara kedua negara.
Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Akbarzadeh menyatakan Iran tidak menginginkan perang, tetapi siap menghadapi segala kemungkinan. “Iran tidak ingin berperang, tetapi sepenuhnya siap. Jika perang pecah, tidak akan ada jalan mundur, bahkan satu milimeter pun,” ujar Akbarzadeh, seperti dikutip Kantor Berita Fars.
Ia menjelaskan, pengelolaan Selat Hormuz kini tidak lagi mengandalkan metode tradisional. Iran, menurut dia, telah mengembangkan sistem berbasis teknologi cerdas untuk memantau seluruh pergerakan maritim, baik di permukaan laut maupun di bawah laut. Sistem tersebut memungkinkan Iran mengawasi lalu lintas kapal secara menyeluruh di jalur strategis itu.
Akbarzadeh juga menegaskan Iran memiliki kewenangan menentukan kapal-kapal berbendera asing yang diizinkan melintasi selat tersebut. Meski demikian, ia menyatakan Teheran tidak berniat mengganggu perekonomian global. Namun, ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak akan diizinkan mengambil keuntungan dari konflik yang mereka mulai.
Dalam pernyataannya, Akbarzadeh turut memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak memberikan wilayah darat, udara, maupun perairannya untuk digunakan dalam operasi militer melawan Iran. Jika hal itu terjadi, Iran akan menganggap negara tersebut sebagai pihak musuh. “Pesan ini telah disampaikan kepada para pihak regional,” ujarnya.
Ia menambahkan Iran masih memiliki kemampuan tambahan yang belum diungkapkan dan akan disampaikan pada waktu yang dianggap tepat.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman serta menjadi salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi global. Sekitar sepertiga pengiriman minyak mentah dunia melalui laut dan sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati jalur ini. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya diangkut melalui Selat Hormuz, sebagian besar menuju pasar Asia, terutama China.
Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat dalam beberapa waktu terakhir, menyusul protes anti-pemerintah di Iran. Pemerintah AS menyatakan seluruh opsi, termasuk tindakan militer, tetap terbuka. Menanggapi hal itu, para pejabat Iran berulang kali memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dibalas dengan respons yang cepat dan komprehensif. (rih)

