JAKARTA || Rasa perih di ulu hati, dada terasa panas, hingga sesak napas kerap menjadi penanda naiknya asam lambung. Keluhan ini bukan sekadar gangguan sesaat. Pada sebagian orang, kondisi yang dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD) dapat berulang dan memengaruhi kualitas hidup, mulai dari aktivitas kerja hingga waktu istirahat malam.
Para ahli menyebut, kunci utama mencegah asam lambung naik bukan semata pada obat-obatan, melainkan pada keteraturan pola makan dan kebiasaan hidup sehari-hari. Langkah-langkahnya sederhana, tetapi menuntut disiplin.
Salah satu cara paling dasar adalah mengatur porsi makan. Makan dalam jumlah kecil tapi lebih sering – sekitar lima kali sehari – dinilai lebih ramah bagi lambung dibandingkan makan besar tiga kali sehari. Porsi berlebih membuat tekanan di dalam perut meningkat dan memudahkan asam lambung terdorong kembali ke kerongkongan.
Berat badan juga berperan penting. Kelebihan lemak, terutama di area perut, memberi tekanan tambahan pada lambung. Karena itu, menurunkan berat badan berlebih bukan hanya membantu meredakan keluhan asam lambung, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan jantung dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Menghindari makan menjelang tidur pun perlu dihindari. Saat tubuh berbaring, gaya gravitasi tidak lagi membantu menahan isi lambung tetap di tempatnya. Idealnya, waktu makan terakhir dilakukan dua hingga tiga jam sebelum tidur, memberi kesempatan bagi lambung mengosongkan isinya ke usus halus.
Bagi mereka yang sering terbangun akibat rasa panas di dada pada malam hari, meninggikan posisi kepala dan dada saat tidur dapat menjadi solusi. Kepala tempat tidur dapat dinaikkan sekitar 15–20 sentimeter dengan penyangga di bawah kasur. Cara ini lebih dianjurkan dibandingkan menumpuk bantal, yang justru berpotensi menambah tekanan pada perut.
Pada kondisi tertentu, perubahan gaya hidup saja tidak selalu cukup. Dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk menekan produksi asam lambung atau meredakan gejalanya, seperti antasida, antagonis H2, hingga penghambat pompa proton. Penggunaan obat ini perlu mengikuti anjuran medis agar efektif dan aman.
Di luar itu, pemilihan makanan juga menentukan. Makanan berlemak, digoreng, pedas, dan asam kerap menjadi pemicu. Demikian pula minuman berkafein, beralkohol, dan berkarbonasi. Mengelola stres melalui aktivitas seperti yoga, meditasi, atau sekadar berjalan santai, serta mengenakan pakaian yang longgar, turut membantu menjaga keseimbangan kerja lambung.
Pada akhirnya, mencegah asam lambung naik adalah soal merawat ritme hidup. Ketika tubuh memberi sinyal lewat rasa tidak nyaman, ia mengingatkan pentingnya jeda, keteraturan, dan perhatian pada hal-hal mendasar. Jika keluhan tak kunjung mereda meski upaya pencegahan telah dilakukan, berkonsultasi kembali dengan dokter menjadi langkah yang bijak. (rih)





