BEIJING | Pemerintah China mengecam keras pembunuhan sejumlah pejabat tinggi Iran serta serangan terhadap warga sipil yang dilakukan Israel. Langkah tersebut dinilai memperparah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Kecaman itu disampaikan menyusul tewasnya Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam serangan pada Selasa (17/3/2026). Ia tewas bersama putranya, Morteza Larijani, serta pejabat lain, termasuk Alireza Bayat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan negaranya terkejut atas insiden tersebut. “Pembunuhan terhadap para pemimpin Iran serta serangan terhadap sasaran sipil sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Lin dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (19/3).
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan pihaknya bertanggung jawab atas operasi yang menewaskan Larijani dalam rangkaian serangan terhadap Iran.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam juga mengonfirmasi kematian Gholamreza Soleimani, komandan pasukan Basij, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
China menilai situasi yang terus memburuk membutuhkan respons cepat dari komunitas internasional. Lin menegaskan, banyak negara kini mendesak dilakukannya gencatan senjata segera guna mencegah konflik meluas menjadi kekacauan regional.
“Pihak-pihak yang berkonflik harus segera menghentikan operasi militer dan menghindari situasi yang tidak terkendali,” kata Lin.
Sebagai bagian dari upaya diplomasi, Utusan Khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, melakukan kunjungan ke sejumlah negara kawasan. Ia bertemu dengan para pejabat di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Mesir, serta berdialog dengan organisasi regional seperti Dewan Kerja Sama Teluk dan Liga Arab.
Dalam rangkaian pertemuan tersebut, China menegaskan bahwa solusi utama terletak pada penghentian permusuhan serta pembukaan jalur dialog politik dan diplomatik.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan pihaknya akan membalas kematian para pejabat tinggi tersebut. Pernyataan itu mempertegas meningkatnya tensi di tengah konflik yang telah menelan korban besar.
Sejak 28 Februari lalu, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang. Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel dan beberapa negara kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS.
Eskalasi juga meluas ke Lebanon, di mana serangan Israel sejak awal Maret dilaporkan menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya, terutama di wilayah selatan dan sekitar Beirut.
Di tengah situasi tersebut, seruan gencatan senjata kian menguat, seiring kekhawatiran bahwa konflik terbuka dapat menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam krisis yang lebih luas dan berkepanjangan. (rih)

