Antropolog Itu Telah Berpulang

Must read

Kami berempat, saya, Herry, Ronny di kursi roda dan Prof. Susilowati sang istri di parkiran bedungan Kuwil Minut 2023.

Oleh: ReO Fiksiwan

Musik baginya bukan sekadar hiburan, melainkan cara mengekspresikan jiwa yang bebas, sama seperti antropologi yang ia tekuni sebagai jalan memahami manusia dan kebudayaan.

“Ilusi bahwa etnografi adalah soal mengelompokkan fakta-fakta aneh dan tidak teratur ke dalam kategori-kategori yang familiar dan teratur… telah lama terbantahkan. Sebaliknya, etnografi adalah semacam penulisan, menuangkan berbagai hal ke atas kertas.” — Clifford Geerzt (192602006), Works and Lives: The Anthropologist as Author (1988).

Drs. Ronny A. Ruben, MA (69), sahabat kami sejak masa kuliah, telah berpulang.

Duka ini bukan sekadar kehilangan seorang rekan seangkatan, melainkan juga hilangnya seorang intelektual yang menapaki jalan antropologi dengan penuh dedikasi. Kami bertiga—Ronny, Herry Talot, dan saya—memulai perjalanan akademik bersama pada tahun 1978.

Dua tahun kemudian, tepatnya 1980, Ronny menamatkan studi S1 Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya (Dulu Fakultas Sastra) UI, sebuah program yang kala itu dibimbing oleh para guru besar seperti Koentjaraningrat, Nico Kalangi, Selo Sumardjan, dan Parsudi Suparlan.

Sejak awal, Ronny menunjukkan ketekunan yang luar biasa, hingga langsung memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Leiden, Belanda.

Di Leiden, tak hanya ilmu yang ia dalami, tetapi juga cinta yang ia temukan.

Lagu Bee Gees How Can You Mend A Broken Heart menjadi jembatan yang menyatukan hatinya dengan Susilowati, teman seangkatan dari jurusan sejarah ketika sama menempuh studi paska sarjana di negeri Tulip dan Kincir Angin, Belanda.

Dari pertemuan itu lahirlah sebuah keluarga akademik: Ronny dan Prof. Dr. Susilowati MA, yang kemudian sama-sama mengabdikan diri sebagai pengajar di Universitas Diponegoro, Semarang.

Mereka dikaruniai tiga putra-putri, buah cinta yang tumbuh dari pertemuan intelektual dan musikal di tanah Belanda.

Ronny bukan hanya seorang antropolog, ia juga seorang musisi yang mahir memainkan gitar.

Di era 1980-an, ia kerap mengiringi lagu-lagu rock blues, Led Zepplin, Deep Purple dan pop kreatif, termasuk karya Chrisye yang kala itu menjadi ikon musik Indonesia.

Musik baginya bukan sekadar hiburan, melainkan cara mengekspresikan jiwa yang bebas, sama seperti antropologi yang ia tekuni sebagai jalan memahami manusia dan kebudayaan.

Kenangan terakhir yang membekas adalah ketika Ronny pulang kampung ke Manado pada Juni 2023.

Ia menginap di Hotel Whiz kawasan Megamall, dan bersama istrinya, Prof. Susilowati Ruben, kami bertiga berkeliling menikmati keindahan kota.

Bendungan Kuwil di Minahasa Utara menjadi salah satu persinggahan, tempat kami bercengkerama sambil mengenang masa muda. Pertemanan intelektual yang terjalin sejak mahasiswa terasa begitu hangat, meski waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing.

Saya masih ingat ketika Ronny pulang ke Manado semasa studi di Leiden, ia menghadiahkan saya buku: The Nuer: A Description of the Modes of Livelihood and Political Institutions of a Nilotic People (1944) dari Edward Evan Evans-Pritchard (1902–1973) dan hermeneutika yang diedit oleh Kurt Mueller-Vollmer (1928-2019), Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present (1988).

Hadiah itu bukan sekadar buku, melainkan simbol persahabatan yang berakar pada kecintaan kami terhadap ilmu. Terakhir, sekitar 2019, Ronny mengirimi saya dua jilid buku N. Graafland, De Minahasa (1869).

Herry dan Ronny meneruskan jalan antropologi, sementara saya menempuh jalur lain(ilmu kesusaatraan), tetapi ikatan intelektual itu tetap terjaga.

Kini, ketika Ronny telah berpulang sebelum 2 Januari 2026 pukul 19.52 WIB di Semarang, Jawa Tengah — setelah diterpa stroke pada 2021 silam yang menyebabkan ia harus ditemani istri tercinta dengan kursi roda — kami merenungkan kembali hakikat kehidupan.

Filsuf Cicero (106-43 SM) pernah menulis bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari siklus alamiah yang harus diterima dengan kebijaksanaan.

Dalam Tusculan Disputations (How to Die), ia menulis: “Hari terakhir itu tidak membawa kepunahan bagi kita, melainkan perubahan tempat.”

Raymond A. Moody Jr(81), filsuf, psikiater, dan penulis yang memperkenalkan istilah near-death experience (NDE), dalam Life After Life (1975),
menegaskan bahwa ada kelanjutan, sebuah misteri yang melampaui batas pengalaman manusia.

Dalam Life After Life, Moody menulis berdasarkan kesaksian para responden:

“Semua pasien ini mengalami sensasi melayang keluar dari tubuh fisik mereka, yang disertai dengan perasaan damai dan utuh yang luar biasa. Sebagian besar menyadari adanya orang lain yang membantu mereka dalam transisi ke alam keberadaan lain.”

Dalam refleksi ini, kami melihat Ronny bukan sekadar pergi, melainkan kembali ke pangkuan semesta, meninggalkan jejak ilmu, musik, dan cinta yang akan terus hidup dalam kenangan.

Ronny A. Ruben adalah antropolog yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidup, sejarah sebagai pasangan dialog, dan musik sebagai bahasa hati.

Ia telah berpulang, tetapi suaranya tetap bergema dalam pertemanan, dalam keluarga, dan dalam dunia akademik yang pernah ia isi dengan semangat. Selamat jalan, sahabat.

#coversongs:
Lagu “Stairway to Heaven” karya Led Zeppelin pertama kali dirilis pada 8 November 1971 dalam album Led Zeppelin IV.

Versi remaster kemudian dirilis kembali pada 2014 sebagai bagian dari proyek remaster seluruh katalog Led Zeppelin.

Makna lagu ini sering ditafsirkan sebagai perjalanan spiritual: dari materialisme menuju pencarian makna hidup, dengan lirik yang penuh simbolisme tentang pilihan, waktu, dan transendensi.

Salah satu lagu, ketika duduk di bangku depan ruang kuliah dan Senat, bersama guitar akustik Ronny suka menyetel intro melodi lagu ini.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article