JAKARTA | Riuh pengunjung kembali terdengar di lorong-lorong Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Setelah beberapa waktu diliputi kekhawatiran akibat menurunnya transaksi, para pedagang kini mulai merasakan tanda-tanda pemulihan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, yang berkeliling di pasar terkenal itu menyebutkan bahwa sebagian pedagangmengalami peningkatan penjualan sekitar 20 hingga 30 persen. Meski belum sepenuhnya pulih seperti masa sebelumnya, geliat ekonomi di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu mulai terlihat.
“Tadi saya tanyakan, memang sebagian besar pedagang menyampaikan sudah mulai ada perbaikan. Walaupun belum seperti yang diharapkan, kenaikannya sekitar 20–30 persen,” ujar Pramono usai menghadiri kegiatan Jakarta Hijab Fest di kawasan Pasar Tanah Abang, Kamis.
Menurut dia, tantangan terbesar yang kini dihadapi pedagang bukan lagi sekadar sepinya pengunjung, melainkan perubahan pola belanja masyarakat. Kehadiran toko daring di berbagai platform digital membuat persaingan semakin ketat.
Namun, situasi itu juga memunculkan adaptasi baru. Banyak pedagang Tanah Abang mulai memasarkan produknya secara online untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus mempertahankan pelanggan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencoba memberi dorongan melalui penyelenggaraan Jakarta Hijab Fest, sebuah ajang promosi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pusat perdagangan tersebut. Dalam kegiatan itu, sejumlah pejabat Pemprov DKI serta direksi badan usaha milik daerah turut hadir dan mengenakan busana yang dibeli langsung dari para pedagang Tanah Abang.
Langkah ini dimaksudkan sebagai dukungan nyata terhadap pelaku usaha lokal agar tetap bertahan di tengah perubahan lanskap perdagangan.
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Purbaya Yudhi Sadewa, juga sempat melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Tanah Abang. Kunjungan itu dilakukan setelah beredar spekulasi bahwa perekonomian nasional tengah menuju resesi yang ditandai dengan sepinya aktivitas pasar.
Namun, menurut Purbaya, kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Ia melihat keramaian pengunjung dan aktivitas belanja yang masih berlangsung.
“Daya beli masih ada, orang masih belanja dan pasar masih ramai. Saya datang ke sana, tiba-tiba banyak orang berkumpul. Artinya, di sekitar kita masih banyak orang yang berbelanja,” ujarnya.
Kerumunan pembeli di pasar, kata dia, menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak. Karena itu, ia menilai kondisi perekonomian nasional masih terjaga dan jauh dari ancaman krisis.
“Artinya daya beli masyarakat sedang membaik. Kita tidak resesi, apalagi krisis. Ekonomi kita sedang bagus,” katanya. (rih)

