JAKARTA | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mendorong dodol khas Betawi menjadi salah satu sajian dalam setiap acara resmi di Balai Kota Jakarta. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional Betawi sekaligus mendukung pelaku usaha lokal.
“Untuk acara-acara di Balai Kota, saya minta agar memesan dodol dari tempat ini,” ujar Pramono seusai menghadiri kegiatan Ngaduk Dodol Betawi di Dodol Nyak Mai di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga menyaksikan secara langsung proses pembuatan dodol secara tradisional. Ia menilai tradisi mengaduk dodol tidak sekadar proses produksi kuliner, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat Betawi.
Menurut Pramono, pembuatan dodol secara tradisional membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar delapan hingga sepuluh jam. Proses pengadukan harus dilakukan tanpa henti dan biasanya melibatkan tiga hingga empat orang yang bekerja secara bergantian.
“Karena itu, tradisi ini menunjukkan semangat kebersamaan,” kata Pramono.
Usaha Dodol Nyak Mai sendiri merupakan usaha keluarga yang telah berdiri sejak awal 1990-an. Usaha ini dirintis oleh Nyak Mai dan kini diteruskan oleh generasi kedua, yakni Mpok Djuanih dan Bang Udin.
Pramono menilai dodol produksi usaha tersebut memiliki cita rasa khas dan telah dikenal luas oleh masyarakat. Ia bahkan mengaku kerap membawa dodol itu sebagai buah tangan untuk keluarganya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata Pramono, akan terus mendorong pengembangan usaha kuliner tradisional Betawi, termasuk melalui modernisasi peralatan produksi tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
“Modernisasi boleh dilakukan, tetapi jangan sampai yang tradisionalnya hilang. Justru di situlah kekhasan dan keunggulannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemprov DKI siap memberikan dukungan bagi pelaku usaha, termasuk bantuan peralatan produksi serta penguatan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pramono juga meminta dinas terkait untuk mempelajari kebutuhan dukungan tersebut.
Selain itu, Pramono menilai kuliner Betawi perlu dikembangkan dengan kemasan dan strategi pemasaran yang lebih menarik agar dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Jakarta.
“Kuliner Betawi sebenarnya banyak yang enak, tetapi belum dipasarkan dengan baik. Dengan kemasan yang menarik, siapa pun yang datang ke Jakarta bisa mencoba dodol ini,” kata Pramono. (rih)

