Sisi Lain PORNAS XVII Korpri 2025: Prestasi, Infrastruktur, dan Warisan Alex Noerdin

Must read

PALEMBANG || Sejak melangkahkan kaki dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hingga tiba di komplek olahraga Jakabaring, saya merasakan –bukan hanya getar kompetisi– melainkan denyut pembangunan yang membanggakan. PORNAS XVII Korpri, yang digelar pada 5–11 Oktober 2025, bukan hanya soal atlet dan medali. Ada cerita di balik venue, transportasi, dan sarana kesehatan yang layak dikagumi –sekaligus menjadi catatan untuk masa depan.

Kompleks Jakabaring Sport City.

Data & Fakta Terkini yang Menguatkan

PORNAS Korpri XVII mencatat jumlah peserta terbesar sepanjang sejarah: 102 kontingen (38 provinsi + 64 kementerian/lembaga), dengan 9.305 atlet, 504 pelatih, dan 1.754 ofisial. Total seluruh peserta —atlet + pelatih + ofisial— mencapai 11.563 orang.

Penutupan event di Stadion Gelora Sriwijaya berlangsung meriah: Kontingen Kementerian Pemuda dan Olahraga keluar sebagai juara umum, Sumsel sebagai tuan rumah terbaik dengan prestasi yang signifikan.

Dampak ekonomi lokal terasa nyata: sektor kuliner –termasuk pempek– UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif ikut mendapat limpahan kunjungan dan konsumsi.

LRT aktif yang terhubung ke bandara.
Jakabaring Aquatic Center0

Sarana Transportasi & Venue: Panggung Prestasi yang Matang

Saat turun dari pesawat di SMB II, kesan pertama saya adalah: kemudahan akses. LRT Palembang memang menjadi salah satu kebanggaan daerah sebagai satu-satunya kota di luar Jakarta yang memiliki Light Rail Transit yang menghubungkan bandara langsung ke kawasan olahraga Jakabaring, tempat sebagian besar venue internasional berada. Sebagai atlet tenis meja dan seorang dokter di klinik kesehatan DPR, saya menikmati perjalanan dari bandara ke vila atlet yang berlangsung lancar, bersih, dan nyaman –jauh dari kekhawatiran macet atau infrastruktur buruk. Venue-venue di Jakabaring (lapangan tenis meja, gelanggang senam, kolam renang, atletik, dsb.) semua berada dalam satu kompleks yang tertata baik, memudahkan atlet, ofisial, kru, bahkan penonton berpindah dari satu cabor ke cabor lain.

RSUD Siti Fatimah Az-Zahra.

Rumah sakit juga menjadi bagian dari persiapan yang terlihat: ambulans standby, klinik di area venue lengkap dengan fasilitas dasar, petugas kesehatan yang siaga. Meski demikian, saya sempat mendengar dari beberapa atlet bahwa untuk cedera serius agak sulit jika harus dirujuk keluar Jakabaring pada malam hari, karena akses beberapa jalan menuju rumah sakit besar terkadang terdampak kepadatan lalu lintas. Hal ini menjadi catatan kecil yang, jika diperbaiki, akan semakin melengkapi kematangan penyelenggaraan.

Arsip foto – Gubernur Sumsel H. Alex Noerdin memeriksa kesiapan Jakabaring Sport City sebagai lokasi utama penyelenggaraan multievent olahraga Asian Games 2018. (Dok. BeritaPagi)

“Warisan Alex Noerdin”: Pembangunan & Kontroversi

Tak ada keraguan bahwa banyak yang dibangun di Sumsel, khususnya Palembang, adalah bagian dari visi besar Gubernur H. Alex Noerdin. Jakabaring Sport City merupakan contoh terdepan: venue internasional untuk multi-event seperti Asian Games, Islamic Solidarity Games, dan lainnya. Infrastruktur jalan-jalan, jembatan, rumah sakit, hotel, bahkan fasilitas transportasi seperti LRT menjadi bagian dari wajah baru yang mencolok di kota ini.

Program-program seperti sekolah gratis, layanan kesehatan gratis, dan beasiswa bagi mahasiswa serta santri, juga secara administratif dijejalkan sebagai bagian dari upaya ‘memasyarakatkan olahraga’ dan kesejahteraan rakyat. Semua ini melekat pada nama Alex Noerdin. Banyak atlet dan warga mengaku bangga hidup di provinsi yang infrastruktur publiknya semakin membaik.

Namun, sisi lain yang tidak bisa diabaikan: kontroversi hukum.

Alex Noerdin divonis bersalah dalam dua perkara besar: kasus korupsi pembangunan Masjid Raya Sriwijaya, dan pengadaan gas bumi oleh BUMD PDPDE. Vonis pengadilan kemudian menjadi hukuman selama 9 tahun penjara setelah melalui proses banding dan penyesuaian.

Fakta persidangan, tidak ada dana, suap, atau gratifikasi yang mengalir ke Alex Noerdin, terbukti hingga kasusnya selesai tidak ada uang pengganti (UP) dengan kata lain Alex Noerdin tidak melakukan korupsi.

Pada 2 Juli 2025, Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan menetapkan Alex Noerdin kembali sebagai tersangka dalam kasus baru: kasus revitalisasi Pasar Cinde yang mangkrak dan disinyalir melibatkan korupsi aset daerah lewat kerja sama Bangun Guna Serah (BGS) dengan PT Magna Beatum. Kerugian negara diperkirakan hampir Rp1 triliun, kawasan Pasar Cinde yang memiliki status cagar budaya juga terancam karena mangkraknya proyek.

Refleksi & Kekaguman yang Terpecah

Sebagai atlet yang merasakan langsung manfaat infrastrukturnya, saya merasa kagum. Venue seluas ini, kenyamanan transportasi, ketersediaan fasilitas medis, semuanya menunjukkan bahwa jika ada kemauan politik dan anggaran, penyelenggaraan besar seperti PORNAS dapat dilakukan dengan layak, bahkan prestisius.

Tetapi, kekaguman itu tidak utuh tanpa rasa simpati —sekaligus kegelisahan— ketika melihat bahwa pembangunannya (yang sangat menunjang acara-acara besar dan prestasi) dibarengi tuduhan-tuduhan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Ada gap antara pencapaian fisik (jalan, stadion, LRT) dan integritas pengelolaannya.

Kesinambungan

PORNAS XVII Korpri 2025 di Palembang adalah bukti bahwa infrastruktur dan fasilitas olahraga di Sumsel sudah berada di level yang mampu mendukung penyelenggaraan nasional (bahkan internasional). Atlet merasakan itu. Pengunjung merasakannya. Penduduk lokal mendapat manfaat dari PAD, UMKM, kuliner, pariwisata.

Namun, kejayaan fisik harus disandingkan dengan keadilan dan transparansi. Untuk nama besar Alex Noerdin—yang sangat terkait dengan banyak pembangunan—perlu ada penyelesaian hukum yang adil dan tuntas agar warisannya tidak sekadar monumen, tetapi juga contoh bahwa pembangunan yang baik harus dibarengi tata kelola yang bersih. (Ayi/rih)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article