Inilah paradoks besar zaman ini: di satu sisi, AI menawarkan efisiensi tanpa batas, tetapi di sisi lain, ia menantang manusia untuk tetap “manusiawi”.
Hari ini di kampus Transpark, LSPR Institute of Communication and Business akan berlangsung Festival Artificial Intelligence. Sebuah ruang pertemuan gagasan tentang masa depan manusia di tengah derasnya arus teknologi.
Festival ini bukan sekadar pameran teknologi mutakhir, tetapi juga refleksi: bagaimana kita, manusia, bisa tetap relevan, bahkan tak tergantikan, di era ketika kecerdasan buatan (AI) merambah hampir setiap sisi kehidupan.
Pertanyaan inilah yang juga menjadi inti dari gagasan Pascal Bornet dalam bukunya Irreplaceable: The Art of Standing Out in the Age of Artificial Intelligence (2024).
Di bandara New York, Pascal Bornet, seorang pionir dalam bidang kecerdasan buatan (AI), mengalami sebuah momen yang mengubah hidupnya.
Ia dan keluarganya terlambat boarding meskipun pesawat masih di depan mata.
Sang manajer kru menolak membuka pintu, berpegang teguh pada prosedur bak mesin yang dingin tanpa empati.
Saat itulah Bornet menyadari sebuah kebenaran pahit: jika manusia hanya bertindak seperti mesin, maka tidak ada alasan pekerjaan mereka tidak digantikan oleh mesin.
Dari pengalaman emosional inilah lahir gagasan Irreplaceable, sebuah seruan agar manusia menjaga sisi kemanusiaannya di tengah arus otomatisasi yang kian deras (Bornet, 2024).
Bornet bukanlah sosok sembarangan. Selama lebih dari dua dekade, ia mengimplementasikan ratusan proyek AI di berbagai belahan dunia.
Namun, dari kedekatannya dengan teknologi, ia justru sampai pada kesimpulan bahwa keberhasilan AI selalu bergantung pada manusia.
Inilah paradoks besar zaman ini: di satu sisi, AI menawarkan efisiensi tanpa batas, tetapi di sisi lain, ia menantang manusia untuk tetap “manusiawi”.
Bornet menegaskan bahwa agar tetap tak tergantikan, kita harus mengembangkan kualitas yang tidak bisa ditiru mesin — kreativitas, empati, dan pemikiran kritis.
Kisah lain datang dari dunia seni. Sofia, seorang pelukis, menuangkan emosi, kenangan, dan pengalaman hidupnya dalam setiap goresan kuas.
Sebaliknya, Artie, robot pelukis, menciptakan karya dari ribuan data matahari terbenam yang dianalisis algoritma.
Hasilnya memang indah, tetapi hampa jiwa.
Kisah Sofia dan Artie menggambarkan jurang perbedaan mendasar antara manusia dan mesin: kreativitas manusia lahir dari rasa, bukan sekadar perhitungan data (Bornet, 2024).
Namun, tidak semua manusia mampu mempertahankan keunikan itu.
Alex, seorang tukang kebun, menolak AI sepenuhnya dan tertinggal.
Kiran, seorang tua yang terlalu bergantung pada AI, kehilangan jati diri dalam apa yang Bornet sebut sebagai “obesitas AI” — kecanduan akan kenyamanan digital tanpa pertimbangan kritis.
Sebaliknya, Rishi, seorang koki inovatif, menemukan keseimbangan: ia menggunakan aplikasi resep berbasis AI, tetapi tetap mengandalkan intuisi dan sentuhan pribadi.
Inilah contoh nyata bahwa manusia bisa bermitra dengan AI tanpa kehilangan dirinya.
Profesional modern juga dihadapkan pada pilihan yang sama. Axel, pengacara yang dulunya kaku dalam analisis hukum, menjadi lebih efektif ketika mengasah empati dan kemampuan bercerita.
Dr. Elena, seorang dokter, melengkapi keterampilan teknisnya dengan kepekaan terhadap pasien. Jordan, direktur pemasaran, menambahkan empati dalam strategi digitalnya, sehingga kampanye yang ia buat lebih beresonansi.
Mereka adalah contoh “humics” – istilah Bornet untuk kualitas manusia tak tergantikan: kreativitas, pemikiran kritis, dan otentisitas sosial.
Sejarah juga memberikan pelajaran. Garry Kasparov, juara catur dunia, pernah dikalahkan AI. Namun, ia kemudian menemukan bahwa tim manusia-AI mampu mengalahkan mesin terkuat sekalipun.
Pesannya jelas: aliansi manusia dan AI lebih kuat daripada keduanya berdiri sendiri.
Sebaliknya, kisah Tay, chatbot Microsoft yang berubah menjadi rasis karena terpapar konten negatif, menunjukkan bahwa AI hanyalah cermin dari nilai-nilai manusia. Maka, tanggung jawab etika tetap berada di tangan kita.
Di tengah semua kisah ini, jelaslah bahwa menjadi Irreplaceable bukan berarti menolak teknologi, melainkan menggunakannya secara bijak. AI memang dapat menggantikan tugas, tetapi tidak dapat menggantikan makna.
Seorang dokter yang hanya mengandalkan algoritma bisa kehilangan kepercayaan pasien.
Namun dokter yang menggabungkan ketepatan AI dengan empati akan tetap tak tergantikan.
Seorang pemasar yang sekadar mengandalkan data akan terlihat dingin, tetapi yang mampu memahami perasaan audiens akan tetap relevan.
Bornet menyebut bahaya besar abad ini sebagai AI obesity — kecenderungan memilih kecepatan dan kenyamanan dari AI dibandingkan kedalaman dan kualitas manusiawi (Bornet, 2024).
Kita bisa menyerahkan kreativitas pada algoritma, atau memilih jalan yang lebih sulit: menghadirkan karya yang otentik, emosional, dan penuh makna. Pilihan inilah yang menentukan apakah kita akan digantikan atau tidak.
Di era ini, literasi AI bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Namun literasi saja tidak cukup. Yang membuat manusia tetap unggul adalah kemampuannya beradaptasi, menemukan makna, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Bornet menyebutnya sebagai competencies of the future: AI-ready, Human-ready, dan Change-ready — mampu menggunakan AI dengan etis, mengasah keunikan manusia, serta beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan arah (Bornet, 2024).
Akhirnya, menjadi Irreplaceable adalah tentang keberanian untuk tetap manusiawi di tengah dunia yang kian digital.
Mesin bisa menghitung lebih cepat, tetapi hanya manusia yang bisa mencintai. AI bisa menciptakan simulasi seni, tetapi hanya manusia yang bisa mencurahkan jiwa dalam sebuah karya.
AI bisa memberi rekomendasi strategi, tetapi hanya manusia yang bisa memberi makna dan arah. Itulah sebabnya, justru di era AI, kualitas manusia semakin penting.
Kita mungkin tidak bisa menyaingi mesin dalam hal kecepatan, tetapi kita bisa menang dalam kedalaman. Kita mungkin tidak bisa mengingat data sebanyak AI, tetapi kita bisa mengingat rasa kehilangan, kegembiraan, dan cinta — hal-hal yang membuat kita benar-benar hidup. Inilah yang menjadikan kita tak tergantikan.
DAFTAR PUSTAKA
Bornet, P. (2024). Irreplaceable: The art of standing out in the age of artificial intelligence. John Wiley & Sons.
Iansiti, M., & Lakhani, K. R. (2020). Competing in the age of AI: Strategy and leadership when algorithms and networks run the world. Harvard Business Review Press.
Suleyman, M., & Bhaskar, M. (2023). The coming wave: Technology, power, and the twenty-first century’s greatest dilemma. Crown.

