Oleh : Edhy Aruman
Namanya Zubaidah binti Ja‘far. Dia perempuan kaya. Dia seorang permaisuri, istri Khalifah Harun al-Rasyid yang terkenal. Zubaidah juga hidup berkemewahan. Itu benar. Istananya, tempat ia tinggal, dihiasi emas dan perabot terbaik dunia.
Namun kemewahan itu bukan sekadar lambang status, melainkan sumber daya yang ia manfaatkan untuk kepedulian dan kebaikan yang melampaui zamannya.
Di balik tirai kemegahan istana Baghdad, saat dunia menyaksikan masa keemasan Dinasti Abbasiyah, keberaniannya mengukir sejarah di padang pasir. Bukan dengan mata pedang, melainkan dengan mata air.
Zubaidah lebih dari sekadar permaisuri; ia adalah arsitek kasih sayang dalam bentuk paling nyata—air kehidupan.
Suatu kesempatan, Zubaidah mendengar rintihan para jemaah haji dari utusan dan pedagang yang kembali dari Hijaz. Mereka berkisah tentang orang-orang yang kehausan di tengah gurun panas, tentang perjalanan suci yang berubah menjadi penderitaan.
Sebagai perempuan yang hatinya ditambatkan pada kemaslahatan umat, Zubaidah tidak tinggal diam. Dia ingin cawe-cawe.
“Apakah para tamu Allah harus menempuh jalan kering kerontang itu tanpa seteguk pun penyejuk?” tanyanya pada suatu hari kepada para penasihat istana.
Matanya menatap jauh ke arah selatan, seakan melihat padang pasir yang tak berujung.
Tanpa menunggu perintah khalifah, Zubaidah memerintahkan tim insinyur untuk menyusuri seluruh jalur haji dari Irak ke Mekkah. Mereka mencatat mata air, mengukur tanah, dan menandai lokasi bendungan dan waduk.
Ia ingin memastikan bahwa tak satu pun jemaah kehausan, bahwa setiap langkah menuju Ka’bah harus disertai kemudahan.
Maka lahirlah proyek yang kemudian dikenal sebagai “Darb Zubaidah” — Jalan Zubaidah. Itu adalah sistem penuh tantangan yang mengangkut air dari mata air di Hunain dan berbagai titik lain ke Mekkah, melalui saluran bawah tanah dan bendungan besar.
Diantara banyak kanal itu, yang paling terkenal adalah Mata Air Zubaidah di Arafah. Ini adalah anugerah yang menjadi sumber keberkahan bagi ribuan jemaah setiap tahun.
Pekerjaan ini tak mudah. Tanahnya berbatu, cuacanya kejam. Ketika para insinyur menyerah setelah beberapa upaya gagal, Zubaidah berdiri di tengah mereka dan berkata, “Jika setiap ayunan beliung harus kubayar dengan satu dinar emas, aku tetap akan membayarnya. Tapi air itu harus mengalir.”
Setelah proyek selesai, para pejabat membawa buku besar pengeluaran ke hadapannya. Zubaidah mengambilnya, menatapnya sejenak, lalu melemparkannya ke sungai.
“Kami serahkan pembukuan ini kepada Hari Perhitungan,” katanya dengan tegas.
“Siapa yang masih memiliki saldo kas, simpanlah. Dan siapa yang merasa kami berutang padanya, kepadanya kami akan membayar.”
Ia lalu memberikan pakaian kehormatan kepada mereka dan melepas mereka dengan pujian dan doa.
Tahun-tahun berlalu. Ketika khalifah Ma’mun memerintahkan pembangunan kanal dan bendungan tambahan di Mekkah melalui gubernurnya, kabar itu sampai ke telinga Zubaidah. Bukannya senang, ia justru bersedih.
“Mengapa engkau tidak menulis surat kepadaku,” tegurnya kepada sang gubernur saat menunaikan haji di tahun berikutnya.
“Agar aku dapat meminta Amirul Mukminin menugaskan proyek itu kepadaku? Aku akan menanggung biayanya sebagaimana aku membiayai bendungan lain ini, agar niatku terhadap penduduk Tempat Suci Allah ini sempurna.”
Itulah Zubaidah—seorang perempuan kaya, istri penguasa, yang memahami bahwa pengabdian tak berhenti pada pembangunan, melainkan pada keberlanjutan. Ia tidak ingin sekadar dikenal sebagai donatur; ia ingin menjadi penjaga, pelindung, dan pelaksana amal.
Dalam sejarah Islam, nama Zubaidah bukan hanya hidup di batu prasasti atau dalam catatan ahli sejarah. Ia hidup dalam setiap tetes air yang menyejukkan bibir jemaah haji. Ia hidup dalam semangat perempuan yang percaya bahwa kelembutan hati bisa membelah batu, dan kasih sayang bisa mengalir sejauh Sungai Eufrat hingga Tanah Haram.
RUJUKAN:
Abbott, N. (1946). Two Queens of Baghdad: Mother and Wife of Hārūn al-Rashīd. In In the Hall of Fame (pp. 236–263). The University of Chicago Press.

