KOTA PROBOLINGGO || Premanisme berkedok ormas sering terlihat dalam berbagai bentuk yang meresahkan masyarakat. Tindakan ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mencederai nilai-nilai persatuan, Kamis (8/5/2025).
Selain itu, pemaksaan kepada pedagang atau pengusaha juga sering terjadi. Bukannya mendorong kepedulian sosial, tindakan ini justru menjadi bentuk pemerasan yang bertentangan dengan prinsip keikhlasan dalam bersedekah.
Premanisme juga kerap menyasar kelompok minoritas yang mengalami intimidasi atau perlakuan diskriminatif. Alih-alih menebarkan kedamaian, tindakan ini justru merusak keberagaman dan persatuan bangsa.
Terkadang aksi sweeping terhadap tempat hiburan, kafe, dan restoran juga sering terjadi dengan alasan menegakkan norma agama. Sayangnya, tindakan ini sering kali disertai pengrusakan fasilitas, bentrokan, dan kekerasan yang justru bertentangan dengan ajaran Islam yang mengedepankan kedamaian dan kasih sayang..
Ketua DPD GMPI (Gerakan Militansi Pejuang Indonesia), Probolinggo Raya, A.Dhany mengatakan, kita harus bersikap tegas dalam menolak premanisme. Pemerintah harus memperketat pengawasan dan memberikan sanksi tegas kepada ormas yang melanggar hukum.
“ Masyarakat pun perlu berani bersuara dan melaporkan tindakan intimidasi yang merusak kedamaian.Bukan ajang pembenaran bagi aksi premanisme yang merusak nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman,” jelasnya.
Sementara itu,Ketua Ormas Squad Nusantara,Bambang Hartono juga mengatakan, fenomena ini menjadi ancaman bagi keutuhan bangsa karena menciptakan ketakutan dan mengganggu harmoni sosial.
“Masyarakat yang seharusnya menjalani kehidupan sehari hari dengan nyaman justru dicekam rasa was-was akibat ulah kelompok yang bertindak sewenang-wenang,” imbuh Bambang.
Ketua Ormas GEMAS, Usman membenarkan, aksi premanisme berkedok ormas ini berpotensi memecah belah persatuan dan menumbuhkan sikap intoleran di tengah masyarakat, ucapnya singkat yang diamini oleh Ketua Ormas Madas Nusantara Hayyi.(Choy)





