Presiden Donald Trump. (Reuters)
DOHA — Amerika Serikat menggelar pembicaraan langsung dengan kelompok Hamas di Doha, Qatar, dalam upaya mencapai kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata jangka panjang. Pertemuan tersebut dipimpin oleh utusan Presiden AS untuk urusan penyanderaan, Adam Boehler. Langkah ini dinilai belum pernah terjadi sebelumnya karena AS selama ini tidak berhubungan langsung dengan Hamas, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris sejak 1997.
Axios melaporkan, pertemuan tersebut sudah berlangsung beberapa pekan terakhir dengan Israel mengetahui aspek-aspek pembicaraan melalui jalur lain. “Pembicaraan juga mencakup diskusi tentang kesepakatan lebih luas untuk membebaskan semua sandera yang tersisa dan mencapai gencatan senjata jangka panjang,” ujar seorang sumber yang dikutip laman tersebut, Jumat (7/3/2025).
Hingga saat ini, setidaknya 59 sandera masih berada di tangan Hamas di Gaza. Pasukan Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa 35 di antaranya telah tewas. Intelijen Israel meyakini 22 sandera masih hidup, sedangkan status dua lainnya belum diketahui. Di antara sandera yang masih ditahan terdapat lima warga negara Amerika, termasuk Edan Alexander (21) yang diyakini masih hidup.
Gencatan senjata selama 42 hari, yang merupakan bagian dari fase pertama kesepakatan Gaza, berakhir pada Sabtu pekan lalu setelah negosiasi perpanjangan menemui jalan buntu. Kendati pertempuran belum kembali pecah, Israel menghentikan semua pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, di mana 1,9 juta warga Palestina—90 persen dari populasi—telah mengungsi dan menghadapi ancaman kelaparan.
Trump Ancam Hamas
Sementara itu, pendekatan mantan Presiden AS Donald Trump terhadap konflik ini berbeda dari pendahulunya, Joe Biden. Trump beberapa kali mengancam Hamas dengan pernyataan keras, bahkan menyebut kemungkinan “pengambilalihan” Gaza oleh AS. Pada Rabu, Trump memperingatkan bahwa warga Gaza akan “mati” jika sandera yang tersisa tidak segera dibebaskan.
Menanggapi ancaman itu, sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam, menegaskan tetap berkomitmen pada gencatan senjata. “Terlepas dari semua upaya musuh untuk mengelak, berbohong, dan menipu… kami lebih suka dan masih lebih suka mematuhi perjanjian ini demi menyelamatkan darah rakyat kami,” ujar juru bicara Abu Obaida dalam pernyataan video yang dikutip AFP, Kamis.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa pernyataan Trump dapat mendorong Israel untuk mengabaikan ketentuan gencatan senjata. Hamas mengklaim masih memiliki bukti kehidupan beberapa sandera dan memperingatkan bahwa eskalasi militer berisiko menewaskan mereka, sebagaimana yang terjadi dalam beberapa kasus sebelumnya.
Dalam perkembangan terbaru, utusan Gedung Putih Steve Witkoff membatalkan rencananya untuk bertemu Perdana Menteri Qatar di Doha pekan ini. Seorang pejabat AS menyebut keputusan itu diambil setelah tidak terlihat ada kemajuan signifikan dalam sikap Hamas terkait negosiasi gencatan senjata.
Meski demikian, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa AS tetap melanjutkan pembicaraan langsung dengan Hamas dan telah berkonsultasi dengan Israel.
(REUTERS/AFP/AXIOS)

