JAKARTA || Ketegangan perdagangan global yang dipicu kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdampak nyata pada industri otomotif Eropa. Produsen mobil asal Jerman, Mercedes-Benz, melaporkan penurunan penjualan global sebesar 9 persen pada kuartal kedua 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data yang dirilis Mercedes dan dikutip dari laman Carscoops, Rabu (9/7/2025), penjualan kendaraan penumpang mereka hanya mencapai 453.700 unit sepanjang April hingga Juni 2025. Angka itu menurun dari 496.700 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelemahan penjualan terasa tajam di pasar Amerika Serikat dan Tiongkok—dua pasar utama produsen mobil mewah ini. Di AS, penjualan mobil dan SUV Mercedes turun 12 persen menjadi 74.600 unit. Tarif impor yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap kendaraan asal Eropa menjadi salah satu penyebab utama penurunan tersebut.
Walaupun Mercedes memproduksi sejumlah model seperti GLE dan GLS di pabrik Alabama, banyak model lain seperti E-Class, S-Class, dan GLC masih diimpor dari Eropa. Model-model inilah yang terkena dampak langsung dari tarif tinggi.
Di China, Mercedes menghadapi penurunan yang lebih dalam. Penjualan merosot hingga 19 persen pada kuartal kedua menjadi 140.400 unit. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh aksi balasan pemerintah Tiongkok atas kebijakan tarif Washington terhadap barang-barang asal China. Bahkan, sebelum tarif diberlakukan, penjualan di pasar Tiongkok sudah menunjukkan pelemahan dengan penurunan 10 persen pada kuartal pertama 2025.
Di sisi lain, Mercedes juga menghadapi tantangan di segmen mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai turun 24 persen menjadi 35.000 unit pada kuartal dua, dan merosot 19 persen secara keseluruhan selama enam bulan pertama tahun ini. Meski begitu, perusahaan mencoba tetap optimistis dengan mengandalkan permintaan awal untuk model CLA baru dan GLC versi listrik yang akan diluncurkan akhir tahun.
Mercedes menyebut bahwa penjualan kendaraan plug-in hybrid (PHEV) naik 34 persen secara global. Gabungan mobil listrik dan PHEV menyumbang 40 persen dari seluruh unit yang terjual di Eropa, dan 21 persen secara global.
Sementara sejumlah pabrikan Jerman lainnya, seperti Audi, mempertimbangkan relokasi produksi ke Amerika Serikat demi menghindari dampak tarif, Mercedes tampaknya masih mengandalkan pasar tradisionalnya sembari menavigasi ketidakpastian global. (rih)

