Pengakuan Denada, Luka Lama yang Dibuka Kembali

Must read

JAKARTA | Air mata Denada Tambunan jatuh pelan dalam sebuah video yang diunggah ke Instagram. Di hadapan kamera, penyanyi dan penari itu akhirnya membuka simpul yang selama bertahun-tahun mengikat rapat hidup pribadinya. Ressa Rizky Rosano, yang namanya sempat bergulir di ruang sidang Pengadilan Negeri Banyuwangi, ia akui sebagai anak kandungnya.

“Saya Denada Tambunan menyatakan bahwa Ressa Rosano adalah anak kandung saya,” ucapnya, Selasa (3/2/2026), dengan suara bergetar. Kalimat itu sederhana, namun mengguncang. Sebab, di baliknya tersimpan cerita panjang tentang jarak, penyesalan, dan polemik yang sempat merambat ke ranah hukum.

Dalam video berdurasi singkat itu, Denada juga menyampaikan permintaan maaf. Ia mengakui tak hidup bersama Ressa sejak sang anak masih bayi. Keputusan itu, katanya, lahir dari kondisi mental yang kala itu tidak stabil. “Saat itu kondisi psikis saya sedang tidak layak,” tuturnya lirih.

Pengakuan itu disambut riuh warganet. Video dengan caption “Untuk anakku Ressa Rossano”—lengkap dengan emoji hati—dibanjiri komentar. Sebagian menyatakan simpati, sebagian lain mempertanyakan masa lalu yang kini kembali disorot.

Denada tidak menampik penyesalan. Ia menyebut butuh waktu sangat lama untuk berani jujur kepada Ressa, termasuk mengakui statusnya sebagai ibu kandung. “Itu kesalahan saya, itu kebodohan saya, itu kekhilafan saya,” ujarnya, tanpa berupaya meredam kata-kata.

Namun pengakuan personal itu bukan satu-satunya bab dalam kisah ini. Sebelum video tersebut beredar, pihak Denada telah lebih dulu mengeluarkan pernyataan resmi melalui kuasa hukumnya, Muhammad Iqbal. Tujuannya, kata Iqbal, meluruskan duduk perkara yang terlanjur dipenuhi spekulasi liar di media sosial—mulai dari isu penelantaran anak hingga persoalan finansial.

Iqbal menegaskan, kliennya tidak pernah bermaksud menyembunyikan identitas Ressa. Alasan privasi, menurutnya, menjadi pertimbangan utama. “Klien kami tidak pernah sekalipun mengeluarkan pernyataan tidak mengakui Ressa sebagai anak. Hubungan darah itu mutlak dan tetap dihormati,” kata Iqbal dalam wawancara virtual.

Soal yang paling sensitif—tanggung jawab finansial—juga dibantah. Pihak Denada mengklaim memiliki bukti bahwa kebutuhan Ressa, termasuk pendidikan dan kesejahteraan, tetap dibiayai sejak kecil. Klaim ini disampaikan untuk mematahkan tudingan penelantaran yang menjadi dasar gugatan.

Meski demikian, dinamika keluarga yang tidak biasa diakui memang ada. Jarak geografis dan pilihan hidup membuat relasi ibu-anak ini tak tampak seperti keluarga pada umumnya. “Bukan hanya diakui, tapi dibiayai, disekolahkan, difasilitasi,” ujar Iqbal. “Hanya karena tidak setiap hari bersama, lalu muncul gugatan, itu yang kami pertanyakan.”

Pengakuan Denada setidaknya membuka satu pintu. Namun pintu lain tetap tertutup rapat: identitas ayah kandung Ressa. Nama Adjie Pangestu sempat menyeruak di jagat maya, berangkat dari spekulasi warganet yang mengaitkan potongan masa lalu Denada.

Adjie Pangestu membantah tegas. “Gue nggak ada hubungan sama Denada,” katanya saat ditemui di Tangerang, Senin (2/2/2026). Ia menyebut tudingan itu sebagai cocoklogi belaka—hasil potongan foto Google dan narasi liar media sosial. Menurut Adjie, ia hanya pernah bertemu Denada sekali, itu pun dalam sebuah acara, tanpa hubungan personal apa pun. (rih)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article