KKN Kolaboratif 92 Hadirkan “Srawung Laisa” Sebagai Warisan Ekonomi dan Sosial di Desa Tukum

Must read

Foto : Dok. KIM Desa Tukum Mandiri

LUMAJANG || Malam peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Lumajang, terasa berbeda. Balai Desa Tukum disulap menjadi ruang penuh kehangatan dengan hadirnya “Srawung Laisa” (Sesarengan Datheng Ing Balai Desa), Minggu (17/8/2025) malam.

Program ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa KKN Kolaboratif 92 dengan Pemerintah Desa Tukum di bawah kepemimpinan Kepala Desa Susanto atau Cak Santo, yang ingin menghadirkan ruang kebersamaan baru bagi warganya.

Bukan sekadar acara hiburan, “Srawung Laisa” menjadi medium memperkuat tali silaturahmi, menghidupkan kembali budaya guyub, sekaligus menanamkan semangat persatuan yang menjadi fondasi nasionalisme.

“Balai Desa ini harus hidup, harus menjadi rumah kedua bagi warga. Melalui kegiatan ini, kita buktikan bahwa dari desa, semangat kebersamaan dan persatuan bangsa terus tumbuh,” tegas Cak Santo dalam sambutannya.

Acara yang digelar selepas ba’da Isya itu dipenuhi ratusan warga lintas usia. Mereka larut dalam suasana keakraban: ngopi bareng, menikmati bazar kuliner lokal, mengabadikan momen di photobooth gratis, yang menjadi simbol harapan bersama.

Tak hanya hiburan, acara ini juga membawa manfaat nyata. Panitia menyediakan cek kesehatan gratis bagi warga, sementara panggung pentas seni dan musik akustik menjadi ruang ekspresi generasi muda.

Menurut mahasiswa KKN Kolaboratif 92, program ini diharapkan meninggalkan kesan mendalam dan berkelanjutan. “Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bisa terus dilanjutkan warga, bukan sekadar kegiatan sekali jalan,” ungkap Koordinator Desa KKN Kolaboratif 92 Desa Tukum Farras Avrilla Daffa Wahyudi.

Antusiasme warga Tukum menjadi bukti bahwa “Srawung Laisa” telah menjembatani perbedaan, memperkuat rasa persaudaraan, dan menghidupkan semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa.

Acara ditutup dengan harmoni musik sederhana, namun sarat makna. Malam itu, Desa Tukum bukan sekadar merayakan kemerdekaan, melainkan menghadirkan pesan kuat bahwa nasionalisme bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang dimulai dari desa: kebersamaan, persatuan, dan cinta tanah air.(dsr)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article