Bus Rajawali Tabrak Panther, Rombongan Pengantar Umrah Tewas

Must read

GRESIK – Suara benturan keras memecah pagi yang masih sepi di Jalan Raya Duduksampeyan, Gresik, Kamis, 10 April 2025. Dari balik warung kopi, Pratama, warga setempat, sontak berdiri dan bergegas keluar. “Pas ngopi dengar suara keras, ternyata kecelakaan,” katanya. Yang dia lihat kemudian adalah horor: sebuah Isuzu Panther ringsek di bagian depan, tujuh penumpangnya tergeletak tanpa nyawa.

Kecelakaan itu melibatkan Panther bernomor polisi DK-1157-FCL dan Bus Rajawali Indah jurusan Bojonegoro–Surabaya. Mobil Panther berwarna biru datang dari arah Lamongan menuju Gresik, sekitar pukul 05.45 WIB. Ban kirinya diduga selip, membuat mobil oleng ke kanan dan melewati marka jalan. Naas, dari arah berlawanan meluncur bus merah dengan kecepatan sedang. Benturan pun tak terelakkan.

Berangkat Umrah

Seluruh penumpang Isuzu Panther yang tewas adalah rombongan pengantar jemaah umrah. Salah satu di antaranya, Muhammad Aqib (27), sejatinya akan berangkat ke Tanah Suci hari itu juga. Namun takdir berkata lain.

“Iya, rencananya habis umrah mau lamaran dengan orang Surabaya. Semalam itu ke rumah saya sama keponakan antar makanan habis tasyakuran,” ujar Hasim, pamannya, dengan mata sembab saat ditemui di RSUD Ibnu Sina. Ia datang untuk memastikan jasad keponakannya yang kini terbujur kaku.

Menurut kesaksian warga, sebagian korban ditemukan dalam posisi tengkurap. “Yang duduk di depan, seorang bapak memangku anaknya. Sudah meninggal,” ucap Pratama lirih. Muhammad Aqib diduga salah satu dari mereka yang berada di baris depan.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Gresik, Ipda Andri Aswoko, memastikan jumlah korban tewas bertambah dari empat menjadi tujuh orang. “Seluruh penumpang Panther meninggal dunia,” ujarnya. Sopir dan beberapa penumpang bus mengalami patah tulang dan kini dirawat di RSUD Ibnu Sina.

Eko Prakoso, kondektur bus, masih syok saat ditemui. “Tiba-tiba penumpang teriak. Aku pas di tengah narik ongkos, langsung ‘bruak’,” tuturnya. Suwarno, sopir bus asal Tuban, juga mengalami luka-luka.

Jalan Raya Duduksampeyan bukan tempat asing bagi kecelakaan. Lalu lintas padat di pagi hari, ditambah kondisi jalan yang sebagian bergelombang, kerap menjadi jebakan mematikan. Belum ada keterangan resmi soal apakah kecepatan menjadi faktor utama, atau apakah ada unsur kelalaian teknis dari kendaraan.

Namun pagi itu, sebuah mobil penuh doa dan harapan pulang dari tasyakuran terakhir justru berujung maut. Muhammad Aqib tak jadi menginjak tanah suci, tak jadi melamar gadis pujaannya. Jalan raya menjadi saksi perpisahan paling menyakitkan. (aih)

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article