MOSKOW | Sikap negara-negara Eropa terhadap rencana operasi militer untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz menunjukkan perbedaan mencolok. Nadezhda Neynsky, Menteri Luar Negeri Bulgaria, menegaskan negaranya tidak akan ambil bagian dalam operasi militer tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi video yang dipandu Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, Kamis (2/4/2026), sebagaimana dilaporkan kantor berita BTA. Bulgaria memilih menahan diri di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Sebaliknya, Belanda mengambil posisi berbeda. Menteri Luar Negeri Tom Berendsen menyatakan kesiapan negaranya untuk berkontribusi secara militer guna memulihkan keamanan pelayaran di selat tersebut.
“Navigasi yang aman di Selat Hormuz sangat penting sehingga kami tidak akan tinggal diam sementara pihak lain menangani masalah ini. Kami siap memainkan peran kami,” ujar Berendsen, seperti dikutip harian Algemeen Dagblad.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah, antara lain Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Eskalasi konflik tersebut berdampak langsung pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Blokade de facto di kawasan itu mengganggu distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sekaligus mendorong lonjakan harga energi dunia. (rih)

