BANDUNG | Musim belum benar-benar usai, tetapi aroma juara mulai tercium dari tiga arah. Di puncak, Persib Bandung berdiri dengan 65 poin dan ambisi hattrick yang kian nyata.
Namun jalan menuju mahkota tak pernah lapang. Enam laga tersisa justru mempertemukan Maung Bandung dengan lawan-lawan yang menyimpan potensi sandungan — dari Arema FC hingga duel klasik melawan Persija Jakarta dan PSM Makassar.
Di atas kertas, Persib masih unggul. Di lapangan, sejarah sering menolak ditebak.
Laga melawan Arema di Bandung bisa menjadi pijakan awal. Modal kemenangan 2-1 di putaran pertama dan dorongan bobotoh menjadikan Persib difavoritkan.
Setelah itu, lawatan ke markas Bhayangkara FC dan jamuan untuk PSIM Yogyakarta memberi peluang tambahan angka penuh.
Namun dua partai tandang — ke Jakarta dan Makassar — berpotensi menggerus laju. Jika skenario realistis berlaku, satu kekalahan dan satu hasil imbang bukan hal mustahil.
Persib diperkirakan menutup musim dengan 77 poin — angka yang cukup tinggi, tetapi belum tentu aman.
Dari belakang, Borneo FC bergerak senyap dengan 74 poin dalam proyeksi akhir. Pesut Etam memanfaatkan jadwal yang relatif bersahabat, dimulai dari menghadapi Semen Padang FC.
Konsistensi menjadi kunci, meski bayang-bayang kekalahan di putaran pertama dari Persita Tangerang dan Bali United masih membekas.
Jika mampu membalikkan hasil di kandang dan mencuri poin tandang, Borneo menjaga jarak tipis dengan Persib hingga pekan terakhir.
Sementara itu, Persija Jakarta berada dalam posisi paling rapuh sekaligus berbahaya. Dengan 59 poin dan satu laga lebih banyak, peluang Macan Kemayoran memang lebih kecil.
Namun lima pertandingan tersisa memberi ruang kejutan. Kemenangan atas tim-tim papan bawah seperti Persis Solo dan Persijap Jepara menjadi keharusan.
Penentu sesungguhnya justru hadir saat menjamu Persib — laga yang sarat gengsi sekaligus bernilai enam poin dalam perburuan gelar.
Jika semua berjalan sesuai hitungan optimistis, Persija bisa menutup musim dengan 72 poin, cukup untuk mengganggu, meski belum tentu menyalip.
Di atas kertas, ini adalah perlombaan angka. Namun di lapangan, ia adalah soal momentum, tekanan, dan keberanian mengambil risiko.
Persib boleh memimpin, Borneo menguntit, Persija mengintai. Tak ada dominasi absolut seperti Johor Darul Ta’zim di Malaysia atau Buriram United di Thailand.
Super League Indonesia justru menemukan daya tariknya di ketidakpastian — sebuah drama panjang yang baru akan menemukan klimaksnya pada pekan terakhir. (rih)

