BENGKULU | Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong penguatan fungsi Rumah Pengasingan Bung Karno sebagai pusat informasi, pembelajaran sejarah, serta destinasi edukasi dan rekreasi budaya. Bangunan yang telah berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional itu dinilai perlu terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan kreatif.
Dalam kunjungan budaya ke Bengkulu, Rabu (25/2/2026), Fadli mengatakan situs tersebut telah ditata dengan baik dan perlu diaktivasi secara berkelanjutan agar semakin banyak generasi muda datang untuk belajar sejarah. “Ke depan perlu terus diaktifkan melalui kegiatan-kegiatan budaya,” ujarnya dalam keterangan pers.
Menurut dia, pengembangan dapat diwujudkan lewat penyelenggaraan pembacaan puisi, pertunjukan musik, diskusi kebudayaan, hingga penyediaan ruang baca atau perpustakaan mini. Dukungan fasilitas penunjang, seperti penyajian kopi khas Bengkulu dan kuliner tradisional, juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik kunjungan, khususnya bagi kalangan muda dan wisatawan luar daerah.
Bengkulu memiliki arti penting dalam perjalanan hidup Soekarno. Di kota inilah ia bertemu dengan Fatmawati, yang kelak menjahit Bendera Pusaka Merah Putih. Selama masa pengasingan 1938–1942, setelah sebelumnya diasingkan di Ende pada 1934–1938, Bung Karno tetap aktif berdiskusi dengan tokoh agama, masyarakat, dan budayawan setempat.
Sejumlah koleksi yang tersimpan di rumah tersebut, termasuk naskah sandiwara Monte Carlo dan berbagai bacaan, menjadi penanda aktivitas intelektualnya. Fadli menegaskan, jejak pengasingan para pendiri bangsa di berbagai daerah—seperti di Ende, Bengkulu, hingga Banda Neira—merupakan saksi sejarah perjuangan kemerdekaan yang perlu terus dikenalkan kepada publik.
Melalui penguatan fungsi edukatif dan kultural, Kementerian Kebudayaan berharap Rumah Pengasingan Bung Karno tidak sekadar menjadi ruang peringatan seremonial, melainkan ruang hidup yang menginspirasi generasi penerus memahami dan melanjutkan semangat perjuangan bangsa. (rih)

