JAKARTA | Hubungan romantis idealnya dibangun di atas empati, komitmen, dan rasa saling menghargai. Namun, pada sebagian relasi, dinamika yang muncul justru timpang dan melelahkan secara emosional. Salah satu pola yang kerap dibahas dalam kajian psikologi adalah relasi dengan pasangan yang memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Gangguan kepribadian ini ditandai kebutuhan berlebihan akan kekaguman, rasa superioritas, serta minimnya empati terhadap orang lain. Dalam konteks hubungan asmara, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memproses emosi dan membangun kedekatan.
Cinta sebagai Transaksi
Sejumlah studi psikologi klinis menunjukkan, individu dengan NPD cenderung memandang hubungan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan diri—sering disebut sebagai narcissistic supply, yakni pasokan pujian, perhatian, atau validasi status. Relasi bukan dilihat sebagai ikatan emosional setara, melainkan ruang untuk mempertahankan citra diri.
Karena itu, ungkapan “aku cinta kamu” bisa terasa asing atau bahkan mengancam bagi mereka. Mengakui cinta berarti membuka kerentanan. Padahal, salah satu ciri utama NPD adalah kebutuhan untuk tetap merasa dominan dan tidak terkekang.
Minimnya empati juga membuat individu dengan NPD kesulitan memahami atau merasakan emosi pasangan secara mendalam. Cinta, dalam pengertian yang melibatkan kepedulian tulus, sering kali tergantikan oleh pola hubungan transaksional.
Dari Love Bombing hingga Devaluasi
Dalam praktiknya, pola relasi NPD kerap mengikuti siklus tertentu. Pada fase awal, pasangan bisa tampil sangat romantis dan intens—fenomena yang dikenal sebagai love bombing. Perhatian melimpah, pujian, dan janji-janji besar diberikan untuk menciptakan keterikatan cepat.
Namun, setelah keterikatan terbentuk, perhatian itu bisa berkurang drastis. Fase ini sering disebut devaluation, yakni penurunan nilai pasangan melalui kritik, sikap dingin, atau menyalahkan. Tidak jarang muncul pula gaslighting, yaitu membuat pasangan meragukan persepsi dan penilaiannya sendiri.
Pola lain yang kerap muncul adalah intermittent reinforcement, yakni pemberian perhatian yang tidak konsisten. Sesekali pasangan diperlakukan sangat baik, lalu diabaikan. Pola ini dapat membuat korban terus berharap dan berupaya keras memperoleh kembali kasih sayang yang tidak stabil.
Tak Mengaku Cinta, tetapi Cemburu
Paradoks sering muncul: tidak mengaku cinta, tetapi menunjukkan kecemburuan berlebihan. Dalam perspektif psikologi, kecemburuan pada individu dengan NPD lebih berkaitan dengan rasa kepemilikan dan kontrol daripada kedekatan emosional.
Pasangan dipandang sebagai “objek” yang memperkuat identitas diri. Ketika perhatian pasangan beralih, rasa terancam muncul. Bukan karena kehilangan cinta, melainkan kehilangan kendali dan sumber validasi.
Sikap posesif, membatasi pergaulan, hingga mendiamkan (silent treatment) dapat menjadi bagian dari strategi mempertahankan dominasi. Kesalahan pun kerap dialihkan kepada pasangan melalui projection atau blame-shifting.
Dampak Emosional bagi Pasangan
Relasi dengan individu ber-NPD dapat menguras energi dan harga diri. Pasangan sering merasa bersalah, tidak cukup baik, atau terus-menerus berusaha menyenangkan pihak lain tanpa kejelasan komitmen.
Psikolog menekankan pentingnya mengenali pola ini sebagai bagian dari gangguan kepribadian, bukan semata-mata kesalahan pribadi korban. Kesadaran menjadi langkah awal untuk melindungi kesehatan mental.
Langkah yang Dapat Dipertimbangkan
Pertama, menetapkan batasan tegas mengenai perilaku yang dapat diterima. Kedua, mencari dukungan dari keluarga, sahabat, atau tenaga profesional seperti psikolog dan konselor. Perspektif pihak ketiga kerap membantu melihat situasi secara lebih jernih.
Dalam banyak kasus, perubahan pada individu dengan NPD memerlukan kesadaran diri dan komitmen terapi jangka panjang—proses yang tidak mudah. Karena itu, menjaga keselamatan emosional diri sendiri tetap menjadi prioritas.
Hubungan sehat menuntut timbal balik dan empati. Ketika cinta berubah menjadi alat kontrol, refleksi dan keberanian mengambil keputusan menjadi kunci untuk memulihkan kembali kendali atas hidup sendiri. (rih)

