SITUBONDO | Di sebuah ruangan Klinik Pratama Polres Situbondo, suara mesin laser berdengung pelan. Satu per satu, lengan, punggung, dan betis yang pernah ditandai tinta permanen kini perlahan dipudarkan. Sekitar seratus anak muda dan orang dewasa bertato di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, datang dengan niat menghapus jejak lama, membuka lembaran baru.
Momentum peringatan ke-74 Korps Sabhara Tahun 2026 menjadi latar program Hapus Tato Gratis yang digelar Polres Situbondo, Rabu (11/2/2026). Program ini sebelumnya telah disosialisasikan kepada masyarakat, dan responsnya melampaui perkiraan.
“Alhamdulillah masyarakat yang memiliki tato memanfaatkan program ini. Mungkin mereka menyesal lalu ingin menghapus tatonya,” kata Kepala Polres Situbondo Ajun Komisaris Besar Polisi Bayu Anuwar Sidiqie saat meninjau kegiatan tersebut.
Bagi Bayu, penghapusan tato bukan sekadar layanan medis, melainkan bagian dari rangkaian peringatan HUT Korps Sabhara yang lebih luas. Di lokasi yang sama, polisi juga menggelar donor darah serta sejumlah kegiatan sosial lain. Perayaan korps, dalam tafsir mereka, bukan hanya seremoni internal, melainkan pintu masuk pelayanan publik.
Kepala Satuan Samapta Polres Situbondo Iptu Rachman Fadli Kurniawan menyebutkan, sekitar seratus peserta mengikuti program ini, beberapa di antaranya masih berstatus pelajar. Ia menyadari, biaya penghapusan tato dengan teknologi laser tidak murah dan kerap menjadi kendala.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu masyarakat yang selama ini terkendala biaya untuk menghapus tato,” ujarnya. Ia menambahkan, program ini juga dimaksudkan sebagai bentuk pelayanan kesehatan sekaligus dukungan moral bagi mereka yang ingin memperbaiki masa depan.
Prosesnya sendiri tidak instan. Kepala Seksi Kedokteran dan Kesehatan Polres Situbondo Brigadir Polisi Kepala Heni Puji Astri menjelaskan, penghapusan tato menggunakan laser membutuhkan beberapa kali tindakan. Para peserta telah dikoordinasikan melalui grup WhatsApp untuk penjadwalan lanjutan. “Tidak cukup satu kali dilaser untuk benar-benar hilang,” katanya.
Di antara peserta, AR, seorang pelajar SMP, duduk menunggu giliran. Tato di tangannya, yang diakuinya dibuat karena ikut-ikutan teman, kini ingin ia hapus. “Saya ingin melanjutkan sekolah SMA,” katanya pelan. Program ini, baginya, bukan hanya soal menghilangkan gambar di kulit, tetapi juga menghapus stigma yang mungkin melekat.
Di Situbondo, tinta yang dulu dianggap ekspresi kini diperlakukan sebagai beban. Dan di ruang klinik itu, negara hadir bukan dengan borgol, melainkan dengan sinar laser, memberi kesempatan kedua bagi mereka yang ingin kembali menata arah hidupnya. (rih)

