Ilustrasi perpaduan ilmu dan praktik. Istimewa
Yang membedakan mereka dari pedagang lain adalah kefanatikan mereka terhadap dua hal sekaligus: kesalehan agama dan disiplin usaha.
Mereka memadukan kerja keras dengan ritual doa, tekad duniawi dengan orientasi ukhrawi.
Tahun 1963, Clifford Geertz menerbitkan Peddlers and Princes, sebuah buku etnografis yang kelak menjadi pintu masuk untuk memahami denyut perubahan ekonomi di Indonesia.
Di antara dua kota yang ia teliti ; Modjokuto di Jawa dan Tabanan di Bali, tersembunyi sebuah kisah yang menantang bias-bias sejarah. Kisah dinamika para pedagang Muhammadiyah yang bekerja keras hingga mengubah wajah ekonomi kota pasar itu.
Jika kolonialisme pernah menanam mitos “pribumi malas”, seperti dipaparkan Syed Hussein Alatas dalam The Myth of the Lazy Native, maka Modjokuto justru menyuguhkan bantahan hidup.
Para pedagang Muslim reformis di sana adalah bukti bahwa malas bukan sifat bawaan; malas adalah konstruksi ideologis yang sengaja diciptakan untuk membenarkan dominasi kolonial.
Di tengah hiruk-pikuk pasar Modjokuto, para pedagang Muhammadiyah itu bukanlah keturunan bangsawan atau pemilik tanah besar. Mereka adalah anak cucu wong dagang pesisir; jaringan niaga yang sudah lama berdiri sebelum kolonialisme datang.
Yang membedakan mereka dari pedagang lain adalah kefanatikan mereka terhadap dua hal sekaligus: kesalehan agama dan disiplin usaha.
Mereka memadukan kerja keras dengan ritual doa, tekad duniawi dengan orientasi ukhrawi.
Bagi mereka, etos bisnis bukan sekadar cara mencari nafkah, tetapi laku keberagamaan.
Etnografi Geertz menampilkan satu tokoh pedagang yang pernah berjuang di Hizbullah, kemudian menjadi penganut Masjumi yang taat.
Ketika ditanya apa rahasia suksesnya, ia menjawab lirih namun tegas: “Saya hanya bekerja dan berdoa, bekerja dan berdoa; dan berdoa itu cuma butuh beberapa menit.”
Jawaban sederhana ini menggambarkan sebuah etos borjuis religius yang sangat rasional: sebuah transposisi dari apa yang Weber sebut sebagai “etos Protestan”, tetapi kini diartikulasikan dalam bahasa Islam Jawa.
Para pedagang ini menolak takdir sebagai alasan kemiskinan; bagi mereka, nasib adalah hasil usaha, dan usaha adalah bentuk kesalehan.
Etika ini membuat mereka menjadi kelompok paling dinamis dalam struktur sosial Modjokuto.
Ketika pedagang lain tenggelam dalam pola pasar yang terfragmentasi; jual beli kecil, tawar-menawar tanpa henti, dan hubungan kredit yang rapuh, para pedagang reformis bergerak menuju bentuk usaha baru yang lebih modern. Mereka mendirikan toko-toko permanen, membangun reputasi, menjaga harga tetap, dan membentuk hubungan jual beli yang stabil.
Toko Ibrahim, yang dikelola seorang haji yang juga sekretaris Muhammadiyah, menjadi simbol transisi ini: toko modern yang melampaui logika bazaar tradisional dan mulai memikul ciri-ciri firma kapitalis kecil.
Di sinilah kontribusi penting kelompok ini terhadap modernisasi ekonomi Modjokuto.
Mereka menciptakan pabrik-pabrik kecil; garmen, pengolahan bahan makanan, manufaktur sederhana, yang mulai mengerosi ketergantungan pada mekanisme pasar tradisional.
Mereka memperkenalkan pembagian kerja, sistem manajemen, dan proses produksi yang teratur. Mereka bukan sekadar pedagang; mereka adalah organisator.
Geertz menyebut mereka “entrepreneurs without enterprises”; wirausahawan yang sedang berjuang melahirkan perusahaan-perusahaan modern dari rahim bazaar yang sangat individualistis.
Tetapi yang membuat kisah ini relevan hingga kini adalah hubungannya dengan mitos “pribumi malas”.
Alatas menunjukkan bahwa mitos tersebut adalah konstruksi kolonial yang secara sistematis menggambarkan orang Melayu, Jawa, dan Filipina sebagai malas, bodoh, tidak bermotivasi, dan tidak mampu menjalankan usaha modern.
Mitos ini bukan hasil penelitian, melainkan strategi ideologis untuk membenarkan eksploitasi kerja paksa, sistem tanam paksa, dan hegemoni dominasi Eropa.
Dalam wacana kolonial, pribumi malas bukan karena pribumi tidak bekerja, tetapi karena mereka tidak bekerja untuk kepentingan kolonial.
Modjokuto memberikan bantahan yang telak. Para pedagang Muhammadiyah menunjukkan disiplin, ketekunan, dan rasionalitas yang sangat kuat.
Mereka bangun pagi sebelum fajar, membuka toko lebih awal daripada kompetitor Tionghoa maupun Jawa abangan, memperluas jaringan, mengelola pembukuan, dan mendirikan usaha keluarga.
Mereka membangun sekolah, membiayai renovasi masjid, memulai gerakan Sarekat Islam lokal, dan memelopori kelas menengah Muslim yang mandiri. Mereka tidak malas; mereka hanya enggan bekerja untuk kepentingan kolonial.
Kisah mereka mengingatkan kita bahwa pembangunan ekonomi bukanlah persoalan “watak budaya”, tetapi persoalan organisasi, kesempatan, dan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat.
Modjokuto bukan sekadar kota kecil; ia adalah laboratorium sosial yang memperlihatkan bagaimana etika kerja, solidaritas organisasi, dan kesadaran religius dapat melahirkan kelas borjuis baru yang saleh sekaligus modern.
Pada akhirnya, Sang Burjuis Saleh dari Modjokuto ini membantah dua mitos sekaligus: mitos bahwa modernisasi hanya bisa dibawa oleh kaum bangsawan seperti di Bali, dan mitos kolonial bahwa pribumi malas.
Mereka membuktikan bahwa di antara kios-kios kecil dan jalan-jalan pasar yang sibuk itu sedang tumbuh embrio kapitalisme domestik yang sangat disiplin, sangat religius, dan sangat Indonesia. Edhy Aruman
DAFTAR PUSTAKA
Alatas, S. H. (1997). The myth of the lazy native: A study of the image of the Malays, Filipinos and Javanese from the 16th to the 20th century and its function in the ideology of colonial capitalism. Frank Cass.
Geertz, C. (1963). Peddlers and princes: Social change and economic modernization in two Indonesian towns. University of Chicago Press.





