Pemimpin: Memilih Panggung yang Benar

Must read

Pemimpin Adalah Ke arah keberanian, ke arah kejujuran, ke arah pertumbuhan. Dan ketika kita mampu memimpin diri sendiri dengan baik, dunia akan mengikuti tanpa perlu diminta.

Fernando “Nando” Seler Parrado Dolgay (lahir 9 Desember 1949) adalah seorang pengusaha, produser, pembicara motivasi, penulis, pembawa acara televisi, mantan pemain rugby, dan pembalap asal Uruguay.

Ia adalah salah satu dari enam belas penyintas Kecelakaan Pesawat Angkatan Udara Uruguay Penerbangan 571, yang jatuh di Pegunungan Andes pada 13 Oktober 1972.

Nando terbangun setelah koma di tengah reruntuhan pesawat. Ia membuka mata dan menemukan dunia yang telah runtuh. Ibunya meninggal. Adiknya sekarat. Salju mengubur harapan.

Mereka yang hidup terpaksa memakan tubuh teman-teman sendiri untuk bertahan. Dalam keadaan seperti itu, sebagian besar manusia akan pasrah.

Tetapi Parrado mengambil keputusan yang bagi orang lain terdengar mustahil: berjalan sepuluh hari melintasi pegunungan yang mematikan untuk mencari bantuan. Ia tidak punya pengalaman mendaki. Tidak punya perlindungan. Yang ia punya hanya satu hal: keyakinan bahwa ia tidak bisa mundur lagi.

Tidak ada Rencana B. Ketika manusia tidak memiliki jalan pulang, seluruh energi, insting, dan tekadnya menyatu pada satu arah: bertahan dan menang. Dari Parrado kita belajar bahwa seorang pemimpin tidak menemukan kekuatannya dalam situasi yang aman. Kekuatan itu muncul ketika pilihan lain telah hangus, ketika satu-satunya jalan adalah maju.

Kisah lain datang dari seorang miliarder yang dikenal karena keberaniannya mengambil risiko: Richard Branson. Di ruang rapat pada usia 50 tahun, ia masih belum bisa membedakan laba bersih dan laba kotor. Seorang direktur harus menggambar diagram jaring ikan agar Branson paham konsep paling dasar dalam bisnis.

Tetapi lihatlah apa yang ia bangun; Virgin Group, perusahaan global dengan puluhan ribu karyawan. Tidak ada yang memandangnya bodoh. Sebaliknya, orang melihat keberaniannya untuk berkata: “Saya tidak tahu. Tolong ajari saya.”

Kepemimpinan bukan tentang tahu segalanya, tetapi tentang tahu siapa yang harus diajak membantu. Branson sukses bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia tidak membiarkan kelemahan menghentikan ambisinya.

Lalu ada kisah Tim Sepeda Inggris yang bertahun-tahun dianggap sebagai bahan tertawaan dunia olahraga. Mereka tidak kalah karena kurang atlet, tetapi karena tidak memiliki sistem yang memadai. Hingga Sir David Brailsford datang dengan filosofi sederhana namun revolusioner: tingkatkan segalanya 1%. Mulai dari cara mencuci tangan, kebersihan truk, kualitas tidur, warna lantai, bahkan bantal pribadi untuk setiap atlet.

Tidak ada perubahan besar, hanya ratusan perubahan kecil yang konsisten.

Lima tahun kemudian, mereka meraih 57% medali emas di Olimpiade Beijing 2008.

Dari mereka, kita belajar bahwa pemimpin sejati tidak selalu datang dengan strategi megah. Kadang mereka hanyalah orang yang berani percaya bahwa kemajuan kecil bukanlah hal remeh, melainkan sumber ketangguhan dan kemenangan.

Tidak semua pelajaran kepemimpinan datang dari heroisme atau kemenangan besar. Ada pula yang datang dari absurditas. Misalnya, perosotan biru seharga £13.000 yang pernah dibeli Steven Bartlett untuk kantornya.

Secara logika bisnis, keputusan itu sangat bodoh. Tetapi kenyataannya, perosotan itu justru menjadi alat pemasaran paling efektif.

Wartawan datang. Foto-fotonya tersebar. Kantor kecil itu tampil sebagai tempat yang berani berbeda.

Pelajaran ini mengingatkan kita bahwa terkadang hal-hal yang tampak konyol adalah bahasa paling jujur dari sebuah identitas. Pemimpin yang berani tampil berbeda akan lebih mudah dikenali daripada mereka yang selalu bermain aman.

Kepemimpinan juga lahir dari pilihan-pilihan pribadi yang tidak terlihat oleh orang lain. Chris Eubank Jr., seorang petinju kelas dunia, pernah dipukuli habis-habisan oleh lawan sparring yang jauh lebih besar di Kuba.

Ia jatuh keluar ring, lututnya menghantam beton, tubuhnya gemetar, dan rasa takut menyesakkan dadanya.

Tetapi ia bangkit kembali ke ring, bukan karena ia yakin bisa menang, melainkan karena ia tidak ingin tidur malam itu dengan membawa cerita bahwa ia menyerah.

Kepemimpinan, dalam bentuk paling intimnya, adalah kesetiaan terhadap cerita yang ingin kita yakini tentang diri kita sendiri.

Ada pula kisah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran mendalam tentang konteks dan nilai.

Joshua Bell, salah satu pemain biola terbaik di dunia, pernah bermain di stasiun kereta bawah tanah dengan pakaian biasa. Tidak ada yang mengenalinya. Setelah 45 menit, ia hanya mendapat $52. Di gedung konser, orang rela membayar ratusan dolar untuk mendengarnya.

Dari sini kita belajar bahwa kemampuan bukanlah segalanya; konteks di mana kemampuan itu ditempatkan menentukan nilainya. Bagi seorang pemimpin, ini adalah pengingat untuk memilih panggung yang benar, lingkungan yang tepat, dan tempat di mana kontribusinya dihargai.

Dan tentu kita tidak bisa melupakan Tiger Woods; yang justru merombak seluruh teknik ayunannya setelah memenangkan Masters.

Saat dunia merayakan, ia memilih untuk memulai kembali dari nol. Ia kehilangan performa selama 18 bulan dan dikritik habis-habisan. Tetapi ia tahu bahwa kesempurnaan tidak mengenal kenyamanan.

Setelah teknik barunya matang, ia mencetak rekor enam kemenangan berturut-turut.

Pemimpin sejati berani mundur selangkah demi melompat jauh ke depan.

Steven Bartlett — Penulis buku The diary of a CEO, menceritakan tentang seorang karyawan bernama Richard yang sangat ambisius. Ia ingin menjadi CEO secepat mungkin, dan suatu hari ia benar-benar mendapat tawaran itu. Masalahnya: ia belum punya pengetahuan, keterampilan, atau kedalaman pengalaman untuk memimpin sebuah perusahaan.

Setelah menjabat, ia kewalahan. Keputusan yang ia buat sering salah arah. Karyawan kehilangan kepercayaan. Perusahaan merugi. Akhirnya ia diberhentikan hanya dalam beberapa bulan.

Bartlett menjadikan kisah ini pelajaran tentang Lima Ember Potensi; pengetahuan, keterampilan, jaringan, sumber daya, dan reputasi. Jika seseorang mengisi ember urutan belakang – reputasi/jabatan – sebelum ember pertama (pengetahuan), kariernya akan dibangun di atas pasir.

Ada juga seorang manajer bernama Neil yang selalu menghindari percakapan yang tidak nyaman dengan bawahannya. Setiap masalah kecil tidak pernah ia tangani karena ia “tidak ingin suasana kerja rusak”.

Lama-kelamaan, masalah itu membesar: konflik antarkaryawan, performa rendah yang dibiarkan, dan budaya kerja yang hancur. Ketika akhirnya perusahaan harus melakukan restrukturisasi, Neil sadar bahwa menghindari rasa sakit justru menciptakan rasa sakit yang lebih besar.

Ini menjadi pelajaran; Jangan menjadi burung unta. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir ketika takut, seolah-olah “kalau aku tidak melihat bahaya, bahaya itu tidak ada.”

Juga bukan yang memanggul beras untuk korban banjir dan membersihkan rumah korban banjir padahal sehari-dari tidak melakukan itu. Atau orang yang menaburkan bahan pangan dari udara sementara yang di bawah mengais cecerannya.

Semua kisah ini; dari pegunungan bersalju, ruang rapat, jalur sepeda, ring tinju, hingga kereta bawah tanah, bertemu pada satu benang merah: pemimpin bukanlah mereka yang selalu menang, selalu benar, atau selalu brilian. Pemimpin adalah mereka yang terus memilih.

Memilih untuk maju ketika tidak ada jalan kembali. Memilih untuk meminta bantuan ketika ego ingin menang sendiri. Memilih untuk memperbaiki hal-hal kecil ketika orang lain mengincar kilauan besar. Memilih untuk menjaga cerita diri ketika tidak ada yang melihat. Memilih untuk berada di konteks yang membuat potensi kita bersinar. Memilih untuk memulai ulang ketika dunia berpikir kita sudah selesai.

Kepemimpinan, pada akhirnya, bukanlah tentang memimpin orang lain. Ia adalah tentang memimpin diri sendiri. Ke arah keberanian, ke arah kejujuran, ke arah pertumbuhan. Dan ketika kita mampu memimpin diri sendiri dengan baik, dunia akan mengikuti tanpa perlu diminta.Edhy Aruman

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article