“Seniman, pelajar, dan diaspora kita di Inggris bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga membangun jembatan pemahaman antarbangsa.”
London dikenal sebagai jantung seni pertunjukan dunia, tempat di mana impian dan talenta dari berbagai penjuru bumi beradu dalam cahaya panggung.
Di antara kilau itu, nama Desmonda Cathabel — akrab disapa Monda — menjadi salah satu wajah Indonesia yang bersinar di negeri Ratu Elizabeth.
Perempuan lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini terpilih menjadi pemeran Princess Jasmine dalam tur musikal Aladdin, sebuah pencapaian yang mengukuhkan langkahnya di dunia teater internasional.
Monda menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya berdiri di bawah sorotan lampu panggung West End.
Setelah menamatkan studi sarjananya pada 2017, ia melanjutkan pendidikan masternya di Royal Academy of Music di London pada 2021 dengan beasiswa prestisius.
Sejak masa kuliah, Monda aktif berperan dalam berbagai pertunjukan teater.
Ia pernah tampil di West Side Story bersama Jakarta Performing Arts Community dan memenangkan penghargaan Stephen Sondheim Society Student Performance of The Year 2022, yang membuka jalannya ke dunia teater profesional.
Perannya sebagai Lorene dalam musikal From Here to Eternit dan penampilannya yang menawan di Maria Friedman and Friends: Legacy membuat namanya mulai dikenal di London.
Tak lama berselang, ia dipercaya memerankan tokoh utama dalam Miss Saigon di Crucible Theatre, Sheffield.
Kini, namanya tercantum di laman resmi Aladdin the Musical bersama para pemeran internasional lain. Tur musikal tersebut akan dimulai di Edinburgh, Skotlandia pada 24 Oktober mendatang.
Melalui perannya sebagai Jasmine, Monda bukan hanya mengharumkan nama Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa bakat dan kerja keras mampu menembus batas negara.
Namun Monda bukan satu-satunya. Ada juga Elh, artis berbakat yang memikat penonton lewat penampilannya di West Kabaret, serta George Haliono, seorang pianis muda berusia 23 tahun yang lahir di Cambridge, Inggris.
Ayah George berasal dari Wales, sementara ibunya adalah warga Indonesia. Meski tak tumbuh di tanah air, George mengaku memiliki ikatan emosional dengan Indonesia.
Saat berkunjung ke Jakarta, ia senang mencoba makanan Padang dan Mie Jawa yang mengingatkannya pada masa kecil bersama sang ibu. “Saya ingin belajar Bahasa Indonesia,” ujarnya waktu iyu. “Ibu saya tidak pernah mengajarkannya saat saya kecil, tapi sekarang dia mau mengajarkan saya. Saya sangat ingin belajar.”
Kisah-kisah seperti mereka menjadi bukti nyata bagaimana seniman Indonesia menorehkan pengaruh di dunia internasional.
Hal inilah yang juga menjadi sorotan Dr. Desra Percaya, M.A., Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris, Irlandia, dan International Maritime Organization (IMO), dalam kuliah umum *Cakrawala Ambassador Talks (A-Talks) Volume 7 bertajuk “Navigating RI – UK Relations in a Changing Global Order.”
Acara yang digelar oleh LSPR Institute of Communication and Business di Auditorium Prof. Djajusman, Kampus B LSPR Sudirman Park, Jakarta, pada Selasa, 14 Oktober 2025, menghadirkan Dr. Desra sebagai dosen tamu kehormatan.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Inggris bernaung di bawah empat pilar: People, Planet, Prosperity, dan Peace. Dari keempatnya, kontak antarmanusia atau people-to-people contact menjadi pilar terpenting.
“Hubungan antarwarga adalah wajah sejati diplomasi,” ujar Dr. Desra. “Seniman, pelajar, dan diaspora kita di Inggris bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga membangun jembatan pemahaman antarbangsa.”
Ia mengakui bahwa visibilitas Indonesia di Inggris masih terbatas dibandingkan negara-negara Persemakmuran seperti Malaysia atau Singapura.
Namun, dengan semakin banyaknya talenta muda yang berkarya di panggung global, citra Indonesia perlahan kian dikenal—bukan hanya lewat Bali, tetapi melalui wajah, karya, dan suara anak-anak bangsanya.
Selain seni, Inggris juga menjadi tujuan utama bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi, terutama di tingkat magister.
Komunitas pelajar Indonesia di Inggris telah menjadi bagian penting dalam memperkuat jalinan diplomasi budaya, ilmu pengetahuan, dan jejaring profesional.
Menurut Associate Professor Dr. Andre Ikhsano, M.Si., Rektor LSPR Institute, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan jembatan antara dunia akademik dan praktik diplomasi.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan penyerahan plakat apresiasi oleh Dr. (H.C.) Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, FIPR, Founder & CEO Institut LSPR dan Bapak Kemal Effendi Gani.
Sebagai penutup, Dr. Desra tampil membawakan musik bersama dosen dan mahasiswa LSPR—sebuah harmoni yang merepresentasikan semangat diplomasi budaya Indonesia: lembut, berkarakter, dan penuh inspirasi.
Dari panggung ke panggung, dari aula kampus hingga teater dunia, para seniman Indonesia terus membuktikan bahwa identitas bangsa bisa hidup dalam setiap nada, dialog, dan karya. Seperti Monda, mereka membawa Indonesia ke dunia—dengan keberanian, ketekunan, dan cinta yang tak pernah padam.Edhy Aruman





